Kamis, 27 September 2012

Berhenti Sejenak, Berfilsafat


Masing-masing dari kita adalah kereta yang sedang melaju kencang. Masing-masing dari kita adalah mobil yang sedang melesat. Masing-masing dari kita adalah desiran peluru yang berdesing dengan kecepatan ekstra cepat. Masing-masing dari kita melaju, melesat, berpacu dengan apa yang kita lakukan dan alami di hidup kita. Kita berpacu dengan segala bentuk tugas-tugas dan kewajiban yang harus kita selesaikan. Yang menjadi bagian dari hidup kita yang tidak bisa dipisahkan dengan diri kita.

Namun, bagaimana bila kereta yang sedang melaju kencang, mobil yang tengah melaju cepat tersebut diminta untuk berhenti sejenak dari kelajuannya yang tengah gencar-gencarnya? Ini adalah perumpaan seseorang yang tengah belajar untuk berfilsafat, mengenal dunia filsafat dan mengembangkan dunia filsafat miliknya. Seseorang diminta untuk berhenti sejenak dari arus kehidupannya yang tengah melaju deras dan berfikir sejenak untuk merefleksikan hidupnya, kehidupan sekitarnya, kehidupan yang ada dan mungkin ada.Kita diminta berhenti sejenak untuk berolah fikir. Olah fikir yang kita sebut sebagai filsafat.

Mendengar kata filsafat, tanggapan sebagian besar orang adalah mengernyitkan dahi, terbayang segala kerumitan dan ketidakjelasan, terbayang sosok berjanggut putih dan lebat. Intinya adalah filsafat bukanlah sebuah dunia yang menyenangkan. Hal itu pula yang saya rasakan ketika pertama kali mendengar penjelasan dari Dr. Marsigit sekilas tentang filsafat. Terlebih dengan penjelasan beliau bahwa jika matematika mempelajari hal yang tadinya abstrak menjadi jelas, maka filsafat mempelajari hal yang jelas menjadi tidak jelas. What? What is the meaning of this? Apakah itu berarti semakin saya mampu membuat pendengar saya tidak mengerti akan apa yang saya ucapkan maka saya dikatakan telah berhasil berfilsafat? Membingungkan. Tidak tergapai oleh akal pemikiran saya. Lantas apa gunanya?

Hal yang sama ternyata dialami bukan hanya oleh saya seorang, namun sebagian besar teman-teman di kelas pun merasakan hal yang sama. Bahkan kakak-kakak kelas kami yang di Pasca Sarjana sana pun merasakan hal demikian, Bapak Marsigit mempostingkan tersendiri tulisan refleksi mahasiswa Pascasarjana dan yang kemudian ditanggapi oleh beliau. Saya bertanya-tanya, mereka saja bingung, bagaimana saya? Dari mana kami harus mulai untuk berfilsafat?

Bapak Marsigit memberikan penjelasan yang cukup menyenangkan hati dengan menjelaskan bahwa filsafat adalah dunia di alam pikiran pribadi masing-masing. Sifatnya adalah hidup, merdeka, bebas. Tanggapan seseorang akan sebuah hal yang sama bisa jadi berbeda, tergantung dimensi pemikiran masing-masing. Saya mendapatkan pencerahan bahwa mempelajari filsafat, belajar untuk berfilsafat pun butuh modal dan bekal, laiknya sebuah perjalanan pasti membutuhkan berbagai perlengkapan dan kesiapan. Kita jangan hanya bermodalkan sel abu-abu di otak kita ini untuk berfilsafat. Bapak Marsigit menjelaskan kepada kami bahwa kami senantiasa untuk membaca dan mengomentari elegi-elegi di blog beliau. Pada awalnya saya bingung, untuk apa? Namun setelah membaca dan berusaha mendapatkan intisari tulisan beliau dan mengomentari tulisan beliau, saya mendapatkan pemahaman : Ooh, jadi ini yang namanya berfilsafat..

Berfilsafat adalah refleksi dan perenungan akan kehidupan. Baik kehidupan yang ada di hadapan kita ini maupun kehidupan yang mungkin ada, yang tersembunyi di celah-celah pikiran kita maupun yang berada di luar jangkauan kita. Bahasa yang digunakan adalah bahasa analog, artinya tidak serta merta mengungkapkan maksud dan tujuannya secara gamblang namun melalui perumpamaan-perumpamaan yang dipahami bersama. Metodenya ialah hermeneutika, yakni menyampaikan pesan dari pembicara kepada pendengar.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana jika filsafat, dengan segala kebebasannya meluap-luap untuk menjamah sudut-sudut alam pemikiran manusia mampu menyesatkan manusia. Ini yang ditakutkan oleh sebagian besar pemula dalam berfilsafat, termasuk saya. Menanggapi hal ini, Dr. Marsigit memberikan bekal kepada kami untuk melawan kesesatan itu sedini mungkin. Apabila engkau berfilsafat sekali, maka berdo’alah sepuluh kali. Apabila filsafatmu melangkah satu langkah maka berdo’alah sepuluh langkah. Pada intinya, meski kita sanggup untuk berikhtiar untuk berfilsafat semampu dan seanggun yang kita mampu utarakan, kita harus menempatkan hati nurani kita sebagai panglima dan jenderal untuk mengontrolnya. Hati nurani adalah perantara manusia untuk mengingat Tuhannya. Dengan kata lain, apabila ikhtiar filsafatmu sudah engkau lakukan, memohonlah kepada Tuhanmu untuk dilindungi dan diselamatkan dari godaan Syetan yang terkutuk.

Setan mampu membelokkan pemahamanmu akan sesuatu menjadi tidak benar. Setan mampu merayumu dengan segala muslihatnya untuk menggoyahkan iman dan kepercayaanmu akan sesuatu yang hakiki dan benar. Ini yang harus diwaspadai oleh kita semua, orang-orang yang hendak berfilsafat, jangan sekali-sekali menggoyahkan iman kita melalui filsafat. Karena iman bukanlah job field dari pikiran, tapi hati. Oleh karena itu, pemahaman akan Tuhan, agama dan kepercayaan tidak akan sampai dimengerti oleh mereka yang hanya mengandalkan pikiran untuk memahami Tuhan. Sebagaimana yang diceritakan oleh Dr. Marsigit bahwa beliau memiliki seorang rekan bernama Prof Don Faust, seorang ahli matematika (saya pernah mengikuti kuliah umum Prof Don ini dan beliau memang seorang yang gemilang dalam matematika) yang sempat bertanya kepada Dr Marsigit (dengan sedikit improvisasi dari saya),
Prof. Don         : “Hey Marsigit, ane bingung nih. Boleh nanya kaga?”
Dr. Marsigit    : “Monggo Pak, pripun?”
Prof. Don         : “ Ane bingung nih. Apa sih hubungannya antara berdo’a dengan matematika ?  Ente selalu membuka dan menutup perkuliahan ente dengan berdo’a. Emang maknanye ape?”
Dr. Marsigit    : “Professor, jenengan percaya dengan Tuhan mboten?”
Prof. Don         : “Enggak, ane ga paham sama konsep Tuhan.”

Hal demikian yang harus diwaspadai oleh para beginner dalam berfilsafat. Tempatkan hati dan pikiran dalam posisinya yang benar. Jangan mengusik hati dengan pikiran-pikiranmu apabila engkau tidak ingin mendapatkan dirimu sebagai orang yang kontradiktif dan munafik. Dan jangan biarkan pikiranmu melantur terlalu jauh, tempatkan hati sebagai pengingat dan berdo’alah, mohonlah kepada Tuhanmu untuk selalu diberikan bimbingan dan perlindungan.

Dan pada akhirnya kereta-kereta tersebut pun harus melanjutkan perjalanan dengan melaju ekstra cepat. Berpacu untuk sampai di tempat tujuan dengan selamat sentosa. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kereta-kereta tersebut – tua muda, kondisi baik rusak, halus bobrok- tetap diingatkan untuk berhenti sejenak. Berhenti untuk memikirkan perjalanannya di dunia ini. Berhenti untuk memikirkan dunianya, sekitarnya dan apa yang mungkin ada di dunianya. Berhenti untuk merefeksikan apa yang telah Tuhan berikan kepadanya di setiap detik dan nafasnya di perjalanan yang teramat singkat ini.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Apakah filsafat harus membuat orang lain tidak jelas?
2.      Bagaimana bila kami ingin berfilsafat dan mengutarakan apa yang ada di fikiran kami kepada orang lain secara jelas? Dapatkah disebut sebagai filsafat?
3.      Dalam kondisi apakah kami disebut layak dikatakan untuk memulai berfilsafat?
4.      Bagaimana mengembalikan orisinalitas pikiran bila kita terlalu terpengaruh filsafat orang lain?

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 19 September 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA

Kamis, 20 September 2012

Tim KKN-PPL UNY 2012 SMAN 1 Kasihan

Assalamu'alaikum wr wb

Well, it;s my first time to write on my blog. Kayaknya sih kalo blog ini dimisalkan sebagai rumah/kamar/ruangan, dia pasti udah penuh sama sarang laba-laba, debu, kecoa, dsbg. Untungnya ga kayak gitu, repot ngebersihinnnya.hehe

Sekarang gue lagi gak mau curcol tentang "pengkhianatan" gue sama blog gue ini, lain kali aja dah..hehe yang mau gue ceritain adalah bahwa gue telah mengalami kenangan yang tak terlupakan bersama teman-teman KKN-PPL UNY 2012 di SMA N 1 Kasihan. Masa KKN-PPL gue cuma 3 bulan, terhitung dr 2 Juli-17 September kemaren tp macem-macem rasa telah hadir di masa sesingkat itu.

Kalo cerita kejadian sehari-hari tentunya ga bakal muat en gue bakal pegel, so I wanna introduce to y'all about my team where I become this group's leader. Keputusan yang gue tau bakal mereka sesali di kemudian hari pas cerita ke anak cucunya.
"Mbah, ceritain dong pas masa KKN dulu"
"Kan mbah udah cerita sama kamu dulu-dulu"
"Iya, tapi mbah belum cerita tentang ketua kelompoknya. Orangnya kaya apa sih mbah?"
"Dia cowok."
"Whoaa, ganteng ga mbah?"
"Cucuku tersayang, lebih baik kamu tidak mengetahui kenyataan tentang orang itu. Dia lebih berbahaya dibandingkan Voldemort dan Madara Uchiha dijadiin satu. Jangan sia-siakan hidupmu nak."
...
"Voldemort sama Madara Uchiha siapa mbah?"

Kira-kira gitu deh, bisa-bisanya gue dipilih en bisa-bisanya gue mau. Tapi semua udah terjadi, en gue ga pernah menyesali hal ini. Coz it was amazing! You only get this KKN-PPL period once in your time and you were a team's leader? *membusungkan dada . Hahaha.

This is the team:


atas ki-ka: Teguh, Eko, Gue (yeah, I know that's disgusting), Faqih, Melita, Keke, Sofiyah
bawah ki-ka : Mega, Rosa, Endah, Dewi, Amallia, Yunita, Widya, Vita

sebenarnya pengen gue ceritain tentang temen-temen KKN-PPL gue ini orang-orangnya kaya apa. Tapi berhubung perut gue udah protes minta diisi, lain kali aja deh gue ceritain orang-orangnya kaya apa.

Gue dengerin cerita temen-temen yg lain tentang kelompoknya kaya apa, gimana serunya mereka, gimana kompaknya mereka, gimana hebohnya acara yg mereka bikin, gimana asiknya kelompok mereka. Well, gue cuma bales nyengir.

I don't really care if they think that kelompok gue ga seheboh yg lain, ga sekompak yg lain, ga seasik yg lain dengan berbagai acara en kegiatan mereka, well I can say that every group has it's own story.

My group story is amazing..
My KKN-PPL group is the best .. although there's no award for that
And still unforgettable..