Masing-masing dari kita
adalah kereta yang sedang melaju kencang. Masing-masing dari kita adalah mobil
yang sedang melesat. Masing-masing dari kita adalah desiran peluru yang
berdesing dengan kecepatan ekstra cepat. Masing-masing dari kita melaju,
melesat, berpacu dengan apa yang kita lakukan dan alami di hidup kita. Kita
berpacu dengan segala bentuk tugas-tugas dan kewajiban yang harus kita
selesaikan. Yang menjadi bagian dari hidup kita yang tidak bisa dipisahkan dengan
diri kita.
Namun, bagaimana bila
kereta yang sedang melaju kencang, mobil yang tengah melaju cepat tersebut
diminta untuk berhenti sejenak dari kelajuannya yang tengah gencar-gencarnya? Ini
adalah perumpaan seseorang yang tengah belajar untuk berfilsafat, mengenal
dunia filsafat dan mengembangkan dunia filsafat miliknya. Seseorang diminta
untuk berhenti sejenak dari arus kehidupannya yang tengah melaju deras dan
berfikir sejenak untuk merefleksikan hidupnya, kehidupan sekitarnya, kehidupan
yang ada dan mungkin ada.Kita diminta
berhenti sejenak untuk berolah fikir. Olah fikir yang kita sebut sebagai
filsafat.
Mendengar kata filsafat,
tanggapan sebagian besar orang adalah mengernyitkan dahi, terbayang segala
kerumitan dan ketidakjelasan, terbayang sosok berjanggut putih dan lebat.
Intinya adalah filsafat bukanlah sebuah dunia yang menyenangkan. Hal itu pula
yang saya rasakan ketika pertama kali mendengar penjelasan dari Dr. Marsigit
sekilas tentang filsafat. Terlebih dengan penjelasan beliau bahwa jika matematika
mempelajari hal yang tadinya abstrak menjadi jelas, maka filsafat mempelajari
hal yang jelas menjadi tidak jelas.
What? What is the meaning of this? Apakah itu berarti semakin saya mampu
membuat pendengar saya tidak mengerti akan apa yang saya ucapkan maka saya
dikatakan telah berhasil berfilsafat? Membingungkan. Tidak tergapai oleh akal
pemikiran saya. Lantas apa gunanya?
Hal yang sama ternyata
dialami bukan hanya oleh saya seorang, namun sebagian besar teman-teman di
kelas pun merasakan hal yang sama. Bahkan kakak-kakak kelas kami yang di Pasca
Sarjana sana pun merasakan hal demikian, Bapak Marsigit mempostingkan
tersendiri tulisan refleksi mahasiswa Pascasarjana dan yang kemudian ditanggapi
oleh beliau. Saya bertanya-tanya, mereka saja bingung, bagaimana saya? Dari
mana kami harus mulai untuk berfilsafat?
Bapak Marsigit memberikan
penjelasan yang cukup menyenangkan hati dengan menjelaskan bahwa filsafat
adalah dunia di alam pikiran pribadi masing-masing. Sifatnya adalah hidup, merdeka, bebas. Tanggapan
seseorang akan sebuah hal yang sama bisa jadi berbeda, tergantung dimensi
pemikiran masing-masing. Saya mendapatkan pencerahan bahwa mempelajari
filsafat, belajar untuk berfilsafat pun butuh modal dan bekal, laiknya sebuah
perjalanan pasti membutuhkan berbagai perlengkapan dan kesiapan. Kita jangan
hanya bermodalkan sel abu-abu di otak kita ini untuk berfilsafat. Bapak
Marsigit menjelaskan kepada kami bahwa kami senantiasa untuk membaca dan
mengomentari elegi-elegi di blog beliau. Pada awalnya saya bingung, untuk apa?
Namun setelah membaca dan berusaha mendapatkan intisari tulisan beliau dan
mengomentari tulisan beliau, saya mendapatkan pemahaman : Ooh, jadi ini yang
namanya berfilsafat..
Berfilsafat adalah
refleksi dan perenungan akan kehidupan. Baik kehidupan yang ada di hadapan kita
ini maupun kehidupan yang mungkin ada,
yang tersembunyi di celah-celah pikiran kita maupun yang berada di luar
jangkauan kita. Bahasa yang digunakan adalah bahasa analog, artinya tidak serta merta mengungkapkan maksud dan
tujuannya secara gamblang namun melalui perumpamaan-perumpamaan yang dipahami
bersama. Metodenya ialah hermeneutika, yakni menyampaikan pesan dari pembicara
kepada pendengar.
Yang perlu diperhatikan
adalah bagaimana jika filsafat, dengan segala kebebasannya meluap-luap untuk
menjamah sudut-sudut alam pemikiran manusia mampu menyesatkan manusia. Ini yang ditakutkan oleh sebagian besar pemula
dalam berfilsafat, termasuk saya. Menanggapi hal ini, Dr. Marsigit memberikan
bekal kepada kami untuk melawan kesesatan itu sedini mungkin. Apabila engkau
berfilsafat sekali, maka berdo’alah
sepuluh kali. Apabila filsafatmu melangkah satu langkah maka berdo’alah sepuluh
langkah. Pada intinya, meski kita sanggup untuk berikhtiar untuk berfilsafat
semampu dan seanggun yang kita mampu utarakan, kita harus menempatkan hati
nurani kita sebagai panglima dan jenderal untuk mengontrolnya. Hati nurani
adalah perantara manusia untuk mengingat Tuhannya. Dengan kata lain, apabila
ikhtiar filsafatmu sudah engkau lakukan, memohonlah kepada Tuhanmu untuk
dilindungi dan diselamatkan dari godaan Syetan yang terkutuk.
Setan mampu membelokkan
pemahamanmu akan sesuatu menjadi tidak benar. Setan mampu merayumu dengan
segala muslihatnya untuk menggoyahkan iman dan kepercayaanmu akan sesuatu yang
hakiki dan benar. Ini yang harus diwaspadai oleh kita semua, orang-orang yang
hendak berfilsafat, jangan sekali-sekali menggoyahkan iman kita melalui
filsafat. Karena iman bukanlah job field
dari pikiran, tapi hati. Oleh karena itu, pemahaman akan Tuhan, agama dan
kepercayaan tidak akan sampai dimengerti oleh mereka yang hanya mengandalkan
pikiran untuk memahami Tuhan. Sebagaimana yang diceritakan oleh Dr. Marsigit
bahwa beliau memiliki seorang rekan bernama Prof Don Faust, seorang ahli
matematika (saya pernah mengikuti kuliah umum Prof Don ini dan beliau memang
seorang yang gemilang dalam matematika) yang sempat bertanya kepada Dr Marsigit
(dengan sedikit improvisasi dari
saya),
Prof. Don : “Hey Marsigit, ane bingung nih. Boleh nanya kaga?”
Dr. Marsigit : “Monggo Pak, pripun?”
Dr. Marsigit : “Monggo Pak, pripun?”
Prof. Don : “ Ane bingung nih. Apa sih hubungannya antara berdo’a dengan matematika ? Ente selalu
membuka dan menutup perkuliahan ente dengan berdo’a. Emang maknanye ape?”
Dr. Marsigit : “Professor, jenengan percaya dengan Tuhan mboten?”
Prof. Don : “Enggak, ane ga paham sama konsep Tuhan.”
Hal demikian yang harus
diwaspadai oleh para beginner dalam
berfilsafat. Tempatkan hati dan pikiran dalam posisinya yang benar. Jangan
mengusik hati dengan pikiran-pikiranmu apabila engkau tidak ingin mendapatkan
dirimu sebagai orang yang kontradiktif dan munafik. Dan jangan biarkan
pikiranmu melantur terlalu jauh, tempatkan hati sebagai pengingat dan
berdo’alah, mohonlah kepada Tuhanmu untuk selalu diberikan bimbingan dan
perlindungan.
Dan pada akhirnya
kereta-kereta tersebut pun harus melanjutkan perjalanan dengan melaju ekstra
cepat. Berpacu untuk sampai di tempat tujuan dengan selamat sentosa. Yang perlu
diperhatikan adalah bahwa kereta-kereta tersebut – tua muda, kondisi baik rusak,
halus bobrok- tetap diingatkan untuk berhenti sejenak. Berhenti untuk
memikirkan perjalanannya di dunia ini. Berhenti untuk memikirkan dunianya,
sekitarnya dan apa yang mungkin ada
di dunianya. Berhenti untuk merefeksikan apa yang telah Tuhan berikan kepadanya
di setiap detik dan nafasnya di perjalanan yang teramat singkat ini.
Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1. Apakah filsafat harus
membuat orang lain tidak jelas?
2. Bagaimana bila kami ingin
berfilsafat dan mengutarakan apa yang ada di fikiran kami kepada orang lain
secara jelas? Dapatkah disebut sebagai filsafat?
3. Dalam kondisi apakah kami
disebut layak dikatakan untuk memulai berfilsafat?
4. Bagaimana mengembalikan
orisinalitas pikiran bila kita terlalu terpengaruh filsafat orang lain?
Refleksi Perkuliahan Filsafat
Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009Rabu, 19 September 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA