Berfilsafat adalah refleksi. Refleksi
akan pengalamanmu, refleksi akan ilmumu, refleksi akan kehidupanmu dan
kehidupan di sekitarmu. Maka itulah yang disebut olah fikir dan itulah yang
dirasakan kurang dimiliki oleh orang-orang sekarang ini. Mereka berjalan dalam
arus manusia yang deras, berpacu dengan waktu dan kesibukan namun rata-rata
dari mereka tidak berfikir. Tidak ada yang mau berhenti dan merefleksikan
hidup. Ini yang berbahaya. Merasa bisa dan mengerti tentang hakikat dunia hanya
berdasarkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki sekarang.
Pada pertemuan kedua perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika bersama Dr. Marsigit, MA setelah minggu sebelumnya sempat rehat
sejenak akibat kesibukan Bapak Marsigit di luar kota, kami diminta untuk
menyerahkan hasil refleksi kami terhadap perkuliahan minggu sebelumnya. Hasil
refleksi tersebut yang diketik dan dikumpulkan secara hardcopy diharuskan disertai oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul
dari perkuliahan sebelumnya. Saya mendapat kehormatan untuk menjadi orang
pertama yang pertanyaan-pertanyaannya dijawab secara langsung oleh Dr.
Marsigit.
Pertanyaan pertama saya adalah Apakah filsafat harus membuat orang lain
tidak jelas? Hal ini merupakan kegelisahan saya terhadap pertemuan sebelumnya
dimana Bapak Marsigit sempat menjelaskan bahwa filsafat membahas hal yang jelas
menjadi tidak jelas. Namun kegundahan saya beliau jawab dengan halus bahwa keberhasilan filsafat adalah ketika ia dapat
membuat orang lain menjadi sangat jelas, terang-benderang. Tantangan orang
berfilsafat ialah bagaimana membuat orang lain menjadi jelas. Dan ini merupakan
sebuah hubungan timbal balik, bila orang lain tersebut masih bingung maka
mungkin terdapat masalah di filsafatnya atau orang tersebut yang masih harus
belajar lebih.
Pertanyaan kedua saya ialah Bagaimana bila kami ingin berfilsafat dan
mengutarakan apa yang ada di fikiran kami kepada orang lain secara jelas?
Dapatkah disebut sebagai filsafat? Mengenai hal ini beliau secara gamblang
menjelaskan bahwa persoalan filsafat ada 2:
1. Jika apa yang sedang engkau fikirkan
ada di
luar fikiranmu, bagaimana caramu mengetahuinya?
2. Jika apa yang sedang engkau fikirkan
berada di dalam fikiranmu, bagaimana orang lain dapat mengetahuinya?
Maka sebenar-benar orang adalah mereka
yang tidak mampu untuk mengetahui segalanya dan sebodoh-bodoh orang adalah
mereka yang merasa bisa mengetahuinya. Dengan jelas, beliau mencontohkan bahwa
beliau pun masih belum mampu untuk mengungkapkan dan menjelaskan rasa cintanya
terhadap istri beliau. Meskipun dituliskan buku setebal 2 meter pun masih belum
akan mampu menjelaskan cintanya selama ini. Hal ini dikarenakan buku tersebut
mungkin mampu menjelaskan cintanya hari ini dan yang telah lalu, namun
bagaimana bila besok? 5 tahun lagi? 10, 20, 100 tahun lagi? Sejujurnya manusia
tidak akan mampu menjelaskan itu semua. Maka Si Maha Menjelaskan adalah Tuhan,
Dia yang mampu menjelaskan secara tuntas beserta contoh-contohnya secara
blak-blakan. Hanya saja manusia tidak mampu memahaminya dan tidak mau berfikir.
Pertanyaan saya yang ketiga ialah Dalam kondisi apakah kami disebut layak
dikatakan untuk memulai berfilsafat? Filsafat adalah olah fikir yang
refleksif, itu jawab beliau. Beliau menambahkan bahwa tatanan hidup manusia
dibagi dua, tatanan atas yakni logika dan alam fikiran sedangkan tatanan bawah
adalah pengalaman. Sebagai seorang mahasiswa, saya dan kawan-kawan sudah
berusia 20-21 tahun, kurang pengalaman
apa? Dr. Marsigit sudah berusia 55 tahun, kurang pengalaman apa? Usia hanya beda sedikit, namun sesungguhnya
tidaklah berbeda jauh dari segi hidup. Toh jika usia kita ditambah 100 atau 200
tahun lagi, apalah perbedaan 30 tahunan itu antara kami dan Pak Marsigit?
Sama-sama sudah menjadi fosil. Jadi, manusia sudah cukup mampu dikatakan untuk
berfilsafat. Manusia telah memiliki akal pikiran dan pengalaman, pertanyaannya
adalah apakah manusia mampu merefleksikan hidupnya menggunakan akal dan
pengalamannya. Kita mampu merefleksikan hidup dan kehidupan kita menggunakan
akal dan pengalaman kita yang kita dapat selama kita hidup, itu sudah cukup
untuk menjadikan kondisi kita layak berfilsafat.
Pertanyaan saya yang keempat ialah Bagaimana mengembalikan orisinalitas pikiran
bila kita terlalu terpengaruh filsafat orang lain? Tentang hal ini Dr.
Marsigit mengoreksi saya bahwa ketika belajar kita tidak boleh berburuk sangka.
Pertanyaan saya mengindikasikan bahwa pemikiran orang lain menjadi buruk,
padahal tidak semua pemikiran orang lain itu buruk. Tidak ada satupun pemikir
filsafat di dunia ini yang tidak terpengaruh orang pemikiran orang lain. Hal
ini ibarat kita berlayar ke tengah samudera, kita harus tahu sekelling kita,
air di sekitar kita, keadaan angin, cuaca dan sebagainya. Kita hidup
berfilsafat pasti dikelilingi oleh filsafat-filsafat orang lain, maka
berinteraksilah. Terjemah dan saling menerjemahkan. Hal ini dimaksudkan untuk
mencapai keseimbangan, keseimbangan berfikir, keseimbangan hidup. Mengembalikan
orisinalitas maksudnya ialah mendapatkan pure
reason dari kita berfilsafat. Dan itu hanya didaptkan ketika kita sedang
dalam posisi seimbang, tidak dikejar-kejar penagih hutang, tidak dikejar-kejar
permasalahan hidup yang lain.
Pertanyaan saya yang kelima,
pertanyaan yang secara spontan saya tuliskan dan saya ajukan saat perkuliahan
dengan saya tuliskan di bawah tulisan-tulisan saya sebelumnya ialah Apa sebenarnya yang coba diungkapkan oleh
filsafat? Obyek filsafat adalah segala yang ada dan mungkin ada. Hidup ini
setiap saat adalah mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Filsafat pun begitu,
dari yang tidak sadar menjadi sadar.
Pertanyaan-pertanyaan berikutnya dari
teman-teman saya – Rosalia, Wahyu, Istanto, dll- berkisar tentang hal yang
serupa dengan pemikiran saya. Sebagai sama-sama beginner dalam dunia filsafat, kami sama-sama gundah tentang dunia
yang tengah kami pijaki ini. Apakah filsafat harus membuat kita jadi bingung?
Bagaimana agar cara kami tidak bingung? Pertanyaan-pertanyaan itu menurut saya
adalah wajar ditanyakan bila kita baru memasuki dunia yang filsafat yang baru
ini. Jawaban dari kebingungan kami ialah bahwa kami semestinya meletakkan do’a
di setiap langkah filsafat kami. Berdo’a supaya diberikan ilmu dan kekuatan
agar mampu memahami. Bila bingung masih berlanjut, maka berhentilah sejenak.
Tidak usah berfikir. Tidur, tinggalkan. Mudah bukan?
Manusia sadar bahwa kita memiliki
akal dan pengalaman. Beberapa sadar bahwa akal dan pengalaman tersebut
terakumulasi setiap hari, setiap detik, setiap waktu. Sedikit sekali yang sadar
bahwa kita yang sekarang adalah kita yang berbeda dari kita yang tadi, kemarin,
2 detik lalu. Dan hanya secuil sadar bahwa akal dan pengalaman itu semestinya
digunakan untuk merefleksikan hidup. Merefleksikan melalui olah pikir. Olah
pikir yang dijernihkan dan dibentengi dengan do’a. Do’a do’a do’a do’a do’a … do’a
dst. Maka sesungguhnya merefleksikan hidup sama saja berikir tentang kebesaran
Allah Yang Agung. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mampu menjadi
seperti itu.
Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1. Bagaimana kita bisa mengetahui orang
lain menjadi jelas dengan filsafat kita?
2. Bagaimana kita menghindari debat
kusir dengan orang lain padahal yang kita mau adalah berinteraksi untuk saling
mendapatkan ilmu dalam berfilsafat?
3. Apakah kita dapat menjelaskan
filsafat kita kepada orang yang usianya di bawah kita dan mungkin tahapan
berfikirnya tidak sama dengan kita?
Refleksi Perkuliahan Filsafat
Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009Rabu, 3 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar