Rabu, 10 Oktober 2012

REFLEKSIKAN HIDUPMU


Berfilsafat adalah refleksi. Refleksi akan pengalamanmu, refleksi akan ilmumu, refleksi akan kehidupanmu dan kehidupan di sekitarmu. Maka itulah yang disebut olah fikir dan itulah yang dirasakan kurang dimiliki oleh orang-orang sekarang ini. Mereka berjalan dalam arus manusia yang deras, berpacu dengan waktu dan kesibukan namun rata-rata dari mereka tidak berfikir. Tidak ada yang mau berhenti dan merefleksikan hidup. Ini yang berbahaya. Merasa bisa dan mengerti tentang hakikat dunia hanya berdasarkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki sekarang.

Pada pertemuan kedua perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika bersama Dr. Marsigit, MA  setelah minggu sebelumnya sempat rehat sejenak akibat kesibukan Bapak Marsigit di luar kota, kami diminta untuk menyerahkan hasil refleksi kami terhadap perkuliahan minggu sebelumnya. Hasil refleksi tersebut yang diketik dan dikumpulkan secara hardcopy diharuskan disertai oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari perkuliahan sebelumnya. Saya mendapat kehormatan untuk menjadi orang pertama yang pertanyaan-pertanyaannya dijawab secara langsung oleh Dr. Marsigit.

Pertanyaan pertama saya adalah Apakah filsafat harus membuat orang lain tidak jelas? Hal ini merupakan kegelisahan saya terhadap pertemuan sebelumnya dimana Bapak Marsigit sempat menjelaskan bahwa filsafat membahas hal yang jelas menjadi tidak jelas. Namun kegundahan saya beliau jawab dengan halus bahwa keberhasilan filsafat adalah ketika ia dapat membuat orang lain menjadi sangat jelas, terang-benderang. Tantangan orang berfilsafat ialah bagaimana membuat orang lain menjadi jelas. Dan ini merupakan sebuah hubungan timbal balik, bila orang lain tersebut masih bingung maka mungkin terdapat masalah di filsafatnya atau orang tersebut yang masih harus belajar lebih.

Pertanyaan kedua saya ialah Bagaimana bila kami ingin berfilsafat dan mengutarakan apa yang ada di fikiran kami kepada orang lain secara jelas? Dapatkah disebut sebagai filsafat? Mengenai hal ini beliau secara gamblang menjelaskan bahwa persoalan filsafat ada 2:
1.      Jika apa yang sedang engkau fikirkan ada di luar fikiranmu, bagaimana caramu mengetahuinya?
2.      Jika apa yang sedang engkau fikirkan berada di dalam fikiranmu, bagaimana orang lain dapat mengetahuinya?
Maka sebenar-benar orang adalah mereka yang tidak mampu untuk mengetahui segalanya dan sebodoh-bodoh orang adalah mereka yang merasa bisa mengetahuinya. Dengan jelas, beliau mencontohkan bahwa beliau pun masih belum mampu untuk mengungkapkan dan menjelaskan rasa cintanya terhadap istri beliau. Meskipun dituliskan buku setebal 2 meter pun masih belum akan mampu menjelaskan cintanya selama ini. Hal ini dikarenakan buku tersebut mungkin mampu menjelaskan cintanya hari ini dan yang telah lalu, namun bagaimana bila besok? 5 tahun lagi? 10, 20, 100 tahun lagi? Sejujurnya manusia tidak akan mampu menjelaskan itu semua. Maka Si Maha Menjelaskan adalah Tuhan, Dia yang mampu menjelaskan secara tuntas beserta contoh-contohnya secara blak-blakan. Hanya saja manusia tidak mampu memahaminya dan tidak mau berfikir.

Pertanyaan saya yang ketiga ialah Dalam kondisi apakah kami disebut layak dikatakan untuk memulai berfilsafat? Filsafat adalah olah fikir yang refleksif, itu jawab beliau. Beliau menambahkan bahwa tatanan hidup manusia dibagi dua, tatanan atas yakni logika dan alam fikiran sedangkan tatanan bawah adalah pengalaman. Sebagai seorang mahasiswa, saya dan kawan-kawan sudah berusia 20-21 tahun, kurang pengalaman apa? Dr. Marsigit sudah berusia 55 tahun, kurang pengalaman apa? Usia hanya beda sedikit, namun sesungguhnya tidaklah berbeda jauh dari segi hidup. Toh jika usia kita ditambah 100 atau 200 tahun lagi, apalah perbedaan 30 tahunan itu antara kami dan Pak Marsigit? Sama-sama sudah menjadi fosil. Jadi, manusia sudah cukup mampu dikatakan untuk berfilsafat. Manusia telah memiliki akal pikiran dan pengalaman, pertanyaannya adalah apakah manusia mampu merefleksikan hidupnya menggunakan akal dan pengalamannya. Kita mampu merefleksikan hidup dan kehidupan kita menggunakan akal dan pengalaman kita yang kita dapat selama kita hidup, itu sudah cukup untuk menjadikan kondisi kita layak berfilsafat.

Pertanyaan saya yang keempat ialah Bagaimana mengembalikan orisinalitas pikiran bila kita terlalu terpengaruh filsafat orang lain? Tentang hal ini Dr. Marsigit mengoreksi saya bahwa ketika belajar kita tidak boleh berburuk sangka. Pertanyaan saya mengindikasikan bahwa pemikiran orang lain menjadi buruk, padahal tidak semua pemikiran orang lain itu buruk. Tidak ada satupun pemikir filsafat di dunia ini yang tidak terpengaruh orang pemikiran orang lain. Hal ini ibarat kita berlayar ke tengah samudera, kita harus tahu sekelling kita, air di sekitar kita, keadaan angin, cuaca dan sebagainya. Kita hidup berfilsafat pasti dikelilingi oleh filsafat-filsafat orang lain, maka berinteraksilah. Terjemah dan saling menerjemahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai keseimbangan, keseimbangan berfikir, keseimbangan hidup. Mengembalikan orisinalitas maksudnya ialah mendapatkan pure reason dari kita berfilsafat. Dan itu hanya didaptkan ketika kita sedang dalam posisi seimbang, tidak dikejar-kejar penagih hutang, tidak dikejar-kejar permasalahan hidup yang lain.

Pertanyaan saya yang kelima, pertanyaan yang secara spontan saya tuliskan dan saya ajukan saat perkuliahan dengan saya tuliskan di bawah tulisan-tulisan saya sebelumnya ialah Apa sebenarnya yang coba diungkapkan oleh filsafat? Obyek filsafat adalah segala yang ada dan mungkin ada. Hidup ini setiap saat adalah mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Filsafat pun begitu, dari yang tidak sadar menjadi sadar.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya dari teman-teman saya – Rosalia, Wahyu, Istanto, dll- berkisar tentang hal yang serupa dengan pemikiran saya. Sebagai sama-sama beginner dalam dunia filsafat, kami sama-sama gundah tentang dunia yang tengah kami pijaki ini. Apakah filsafat harus membuat kita jadi bingung? Bagaimana agar cara kami tidak bingung? Pertanyaan-pertanyaan itu menurut saya adalah wajar ditanyakan bila kita baru memasuki dunia yang filsafat yang baru ini. Jawaban dari kebingungan kami ialah bahwa kami semestinya meletakkan do’a di setiap langkah filsafat kami. Berdo’a supaya diberikan ilmu dan kekuatan agar mampu memahami. Bila bingung masih berlanjut, maka berhentilah sejenak. Tidak usah berfikir. Tidur, tinggalkan. Mudah bukan?

Manusia sadar bahwa kita memiliki akal dan pengalaman. Beberapa sadar bahwa akal dan pengalaman tersebut terakumulasi setiap hari, setiap detik, setiap waktu. Sedikit sekali yang sadar bahwa kita yang sekarang adalah kita yang berbeda dari kita yang tadi, kemarin, 2 detik lalu. Dan hanya secuil sadar bahwa akal dan pengalaman itu semestinya digunakan untuk merefleksikan hidup. Merefleksikan melalui olah pikir. Olah pikir yang dijernihkan dan dibentengi dengan do’a. Do’a do’a do’a do’a do’a … do’a dst. Maka sesungguhnya merefleksikan hidup sama saja berikir tentang kebesaran Allah Yang Agung. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mampu menjadi seperti itu.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Bagaimana kita bisa mengetahui orang lain menjadi jelas dengan filsafat kita?
2.      Bagaimana kita menghindari debat kusir dengan orang lain padahal yang kita mau adalah berinteraksi untuk saling mendapatkan ilmu dalam berfilsafat?
3.      Apakah kita dapat menjelaskan filsafat kita kepada orang yang usianya di bawah kita dan mungkin tahapan berfikirnya tidak sama dengan kita?




Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 3 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar