Rabu, 07 November 2012

MENEMUKAN HIKMAH DI BALIK BAYANGAN



Pada perkuliahan filsafat pendidikan matematika yang lalu, saya menanyakan kepada Bapak Marsigit terkait filsafat di balik wayang. Hal ini dikarenakan saya tertarik dengan tulisan beliau di blog beliau yang diberi judul elegi wayang golek. Saya bertanya, apakah makna secara filsafat di balik wayang-wayang lain selain wayang golek?Wayang kulit, wayang wong misalkan. Saya penasaran dengan makna wayang tersebut diciptakan.

Perkenalan saya dengan wayang adalah melalui orang tua saya, khususnya bapak saya. Jaman ketika saya masih kecil, di TVRI sering ditayangkan wayang pada larut malam. Terkadang, ketika saya terbangun ingin buang air kecil saya sering mendapati bapak saya sedang asyik menonton tontonan tersebut. Saya yang sedari kecil memang tidak bisa bahasa Jawa, apalagi bahasa Jawa yang digunakan dalam pewayangan, tentu hanya bisa bingung melihat tontonan itu. Tapi saya tertarik dengan permainan ‘mainan’ yang digerakkan tersebut. Kadang terlihat seorang tokoh sedang menasihati tokoh lain, ada yang terlihat sedang bertengkar dan ada yang digerakkan sedemikian rupa sehingga kedua tokoh sedang terlibat perkelahian. Terlebih ketika yang ditayangkan adalah bayangannya di balik kain putih besar, seolah-olah hidup! Ya! Mereka hidup dengan segala gerakannya. Sungguh luar biasa.

Beranjak dewasa, saya makin memahami bahwa wayang adalah hasil kreatifitas tinggi yang memadukan unsur kesenian Hindu dengan nilai-nilai ajaran Islam yang dibawakan oleh Wali Songo. Wayang dibuat sedemikian rupa agar tidak semirip orang aslinya namun tetap mempresentasikan manusia. Jika kita memperhatikan, jelas sekali terlihat bahwa dunia pewayangan dibagi dua, ada tokoh-tokoh yang baik dan biasanya digambarkan dengan wajah yang rupawan, mirip manusia utuh, dengan mata sayu yang terlihat mereka sering bertapa dan ikhlas akan keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada pula tokoh-tokoh yang tidak baik yang digambarkan dengan perut buncit, mata lebar, mulut menganga. Ini menggambarkan bahwa kehidupan di dunia merupakan pergulatan antar baik dan buruk, dan akan berlangsung selamanya. Hasil kreatifitas para Wali Songo adalah memasukkan nilai-nilai Islam pada kesenian yang digemari sejak jaman Hindu dahulu kala sehingga di masa kini masih terdapat istilah-istilah Islam yang digunakan seperti Jamus Kalimosodo (Kalimo=5 rukun Islam, sodo=Syahadat) dan sebagainya.

Menurut penjelasan dari Bapak Marsigit, wayang berasal dari kata bayangan. Bayangan memiliki makna bahwa ia tersembunyi di balik objek. Hal ini berarti setiap pementasan wayang pasti mengungkapkan sebuah makna dan hikmah di balik cerita yang ditampilkan. Hal ini menggambarkan bahwa di kehidupan manusia, manusia pun dituntut untuk selalu mempu menemukan hikmah di balik segala peristiwa yang ada. Memahaminya dan kemudian mampu bersyukur kepada Tuhan atas segala kenikmatan yang diterimanya dan memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan yang dibuatnya.

Tokoh-tokoh di pewayangan bermacam-macam, tokoh-tokoh tersebut adalah kreasi dari tokoh-tokoh yang ada dan mungkin ada di dunia ini. Begitu pula di filsafat, kita mampu menuliskan siapapun tokoh yang dikehendaki asalkan dia ada dan mungkin ada.Dengan adanya tokoh-tokoh tersebut kita diharapkan mampu menerjemahkan dan mendeskripsikan apa yang ada dan mungkin ada. Kembali lagi ke perenungan dan pemetikan hikmah dari cerita dan peristiwa yang ada. Oleh karenanya wayang seringkali digunakan untuk membelajarkan masyarakat tentang nilai-nilai baik dan norma-norma luhur.

Terlepas dari pandangan sebagian orang yang menganggap bahwa wayang adalah syirik, atau bid’ah atau apapun itu yang dirasa bukan merupakan ajaran agama, saya merasa bahwa itu adalah hak individu masing-masing. Perbedaan pendapat tersebut dikarenakan perbedaan sudut pandang dalam melihat wayang dan juga didasari oleh pemahaman masing-masing individu akan agama yang dianutnya. Saya tidak terlalu mempermasalahkan itu. Saya tetap merasa bahwa wayang adalah sebuah kesenian yang luar biasa. Hasil karya cipta rasa dan karsa yang tinggi dari para pendahulu kita. Wayang bukan hanya sekedar puppet atau boneka biasa yang dipertunjukkan. Nilainya terletak kepada kemampuannya untuk memberikan hikmah dan kebaikan di balik peristiwa. Kemampuannya yang fleksibel untuk menceritakan berbagai peristiwa di kehidupan nyata yang dituangkan dengan kehidupan di dunia pewayangan membuatnya menjadi sarana yang menarik untuk refleksi diri, refleksi kehidupan kita. Refleksi kehidupan manusia yang dipresentasikan melalui sebuah pertunjukkan bayangan yang indah dan hidup. Yang dimaksudkan agar segenap manusia mampu menarik hikmah dan kesimpulan di baliknya.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Bagaimana bila wayang disalahgunakan untuk menyampaikan nilai-nilai keburukan, dapatkah hal seperti itu terjadi?
2.      Dalam filsafat, tokoh yang dimunculkan adalah tokoh yang ada dan mungkin ada menurut pemahaman kita akan dunia, dapatkah orang lain memahami tokoh-tokoh yang kita ciptakan itu sebagaimana kita memahami tokoh rekaan kita sendiri? Atau kita biarkan masing-masing orang memahaminya sendiri-sendiri sesuai pemahaman mereka masing-masing?


Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 31 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar