Pada perkuliahan filsafat pendidikan matematika yang
lalu, saya menanyakan kepada Bapak Marsigit terkait filsafat di balik wayang.
Hal ini dikarenakan saya tertarik dengan tulisan beliau di blog beliau yang
diberi judul elegi wayang golek. Saya bertanya, apakah makna secara filsafat di
balik wayang-wayang lain selain wayang golek?Wayang kulit, wayang wong
misalkan. Saya penasaran dengan makna wayang tersebut diciptakan.
Perkenalan saya dengan wayang adalah melalui orang tua
saya, khususnya bapak saya. Jaman ketika saya masih kecil, di TVRI sering
ditayangkan wayang pada larut malam. Terkadang, ketika saya terbangun ingin
buang air kecil saya sering mendapati bapak saya sedang asyik menonton tontonan
tersebut. Saya yang sedari kecil memang tidak bisa bahasa Jawa, apalagi bahasa
Jawa yang digunakan dalam pewayangan, tentu hanya bisa bingung melihat tontonan
itu. Tapi saya tertarik dengan permainan ‘mainan’ yang digerakkan tersebut. Kadang
terlihat seorang tokoh sedang menasihati tokoh lain, ada yang terlihat sedang
bertengkar dan ada yang digerakkan sedemikian rupa sehingga kedua tokoh sedang
terlibat perkelahian. Terlebih ketika yang ditayangkan adalah bayangannya di
balik kain putih besar, seolah-olah hidup! Ya! Mereka hidup dengan segala
gerakannya. Sungguh luar biasa.
Beranjak dewasa, saya makin memahami bahwa wayang
adalah hasil kreatifitas tinggi yang memadukan unsur kesenian Hindu dengan
nilai-nilai ajaran Islam yang dibawakan oleh Wali Songo. Wayang dibuat
sedemikian rupa agar tidak semirip orang aslinya namun tetap mempresentasikan
manusia. Jika kita memperhatikan, jelas sekali terlihat bahwa dunia pewayangan
dibagi dua, ada tokoh-tokoh yang baik dan biasanya digambarkan dengan wajah yang
rupawan, mirip manusia utuh, dengan mata sayu yang terlihat mereka sering
bertapa dan ikhlas akan keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada pula
tokoh-tokoh yang tidak baik yang digambarkan dengan perut buncit, mata lebar,
mulut menganga. Ini menggambarkan bahwa kehidupan di dunia merupakan pergulatan
antar baik dan buruk, dan akan berlangsung selamanya. Hasil kreatifitas para
Wali Songo adalah memasukkan nilai-nilai Islam pada kesenian yang digemari
sejak jaman Hindu dahulu kala sehingga di masa kini masih terdapat
istilah-istilah Islam yang digunakan seperti Jamus Kalimosodo (Kalimo=5 rukun
Islam, sodo=Syahadat) dan sebagainya.
Menurut penjelasan dari Bapak Marsigit, wayang berasal
dari kata bayangan. Bayangan memiliki makna bahwa ia tersembunyi di balik
objek. Hal ini berarti setiap pementasan wayang pasti mengungkapkan sebuah
makna dan hikmah di balik cerita yang ditampilkan. Hal ini menggambarkan bahwa
di kehidupan manusia, manusia pun dituntut untuk selalu mempu menemukan hikmah
di balik segala peristiwa yang ada. Memahaminya dan kemudian mampu bersyukur
kepada Tuhan atas segala kenikmatan yang diterimanya dan memohon ampun kepada
Tuhan atas segala kesalahan yang dibuatnya.
Tokoh-tokoh di pewayangan bermacam-macam, tokoh-tokoh
tersebut adalah kreasi dari tokoh-tokoh yang ada dan mungkin ada di dunia ini.
Begitu pula di filsafat, kita mampu menuliskan siapapun tokoh yang dikehendaki
asalkan dia ada dan mungkin ada.Dengan adanya tokoh-tokoh tersebut kita
diharapkan mampu menerjemahkan dan mendeskripsikan apa yang ada dan mungkin
ada. Kembali lagi ke perenungan dan pemetikan hikmah dari cerita dan peristiwa
yang ada. Oleh karenanya wayang seringkali digunakan untuk membelajarkan
masyarakat tentang nilai-nilai baik dan norma-norma luhur.
Terlepas dari pandangan sebagian orang yang menganggap
bahwa wayang adalah syirik, atau bid’ah atau apapun itu yang dirasa bukan
merupakan ajaran agama, saya merasa bahwa itu adalah hak individu
masing-masing. Perbedaan pendapat tersebut dikarenakan perbedaan sudut pandang
dalam melihat wayang dan juga didasari oleh pemahaman masing-masing individu
akan agama yang dianutnya. Saya tidak terlalu mempermasalahkan itu. Saya tetap
merasa bahwa wayang adalah sebuah kesenian yang luar biasa. Hasil karya cipta
rasa dan karsa yang tinggi dari para pendahulu kita. Wayang bukan hanya sekedar
puppet atau boneka biasa yang
dipertunjukkan. Nilainya terletak kepada kemampuannya untuk memberikan hikmah
dan kebaikan di balik peristiwa. Kemampuannya yang fleksibel untuk menceritakan
berbagai peristiwa di kehidupan nyata yang dituangkan dengan kehidupan di dunia
pewayangan membuatnya menjadi sarana yang menarik untuk refleksi diri, refleksi
kehidupan kita. Refleksi kehidupan manusia yang dipresentasikan melalui sebuah
pertunjukkan bayangan yang indah dan hidup. Yang dimaksudkan agar segenap
manusia mampu menarik hikmah dan kesimpulan di baliknya.
Pertanyaan untuk Dr.
Marsigit:
1.
Bagaimana
bila wayang disalahgunakan untuk menyampaikan nilai-nilai keburukan, dapatkah
hal seperti itu terjadi?
2.
Dalam
filsafat, tokoh yang dimunculkan adalah tokoh yang ada dan mungkin ada menurut
pemahaman kita akan dunia, dapatkah orang lain memahami tokoh-tokoh yang kita
ciptakan itu sebagaimana kita memahami tokoh rekaan kita sendiri? Atau kita
biarkan masing-masing orang memahaminya sendiri-sendiri sesuai pemahaman mereka
masing-masing?
Refleksi Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan
Matematika Kelas Bilingual 2009Rabu, 31 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar