Berfilsafat
adalah olah pikir. Mengapa demikian? Karena dari sekian banyaknya yang ada dan
mungkin ada di dunia ini, tentu kita tidak mampu memikirkan semuanya. Waktu
kita bisa habis hanya untuk itu. Oleh karena itu, filsafat ada untuk membuat
kita mempelajari mana yang pantas untuk dipikirkan dan mana yang tidak pantas
untuk kita pikirkan. Untuk segala hal yang tidak kita pikirkan, dalam filsafat,
semua itu dibuang atau diletakkan di rumah “Ephoce” yakni sebuah tempat
imajiner dimana segala yang kita tidak pikirkan berada di sana.
Manusia hidup
tentu harus berpikir. Segala yang ia lakukan harus didasari oleh pemikiran yang
jernih. Namun, apakah harus selalu seperti itu? Apakah kita bisa melakukan
sesuatu yang jelas tanpa berpikir? Ya, bisa. Hal tersebut oleh Prof. Marsigit
dijelaskan sebagai mitos, yakni sesuatu hal yang sebenarnya tidak masuk akal
namun tetap dijalankan atau dilakukan oleh manusia tanpa dasar alasan yang
jelas atau logis. Dalam mitos, segala logika jadi layu di sana dan tidak
berpengaruh. Lantas apa yang menggerakkan manusia sehingga bisa melakukan hal
yang tidak logis seperti itu? Jawabannya yakni manusia menggunakan intuisinya.
Intuisi
adalah hal yang alami dimiliki manusia. Semua orang memilikinya. Tidak hanya
orang dewasa, sedari bayi pun kita telah memiliki intuisi tersebut. Bayi,
meskipun ia tidak mengetahui definisi tentang besar dan kecil, ia tetap mampu
membedakan mana objek yang besar dan mana yang kecil. Bayi, meskipun ia tidak diajarkan
pengertian cantik dan tampan, ia tetap mampu mengetahui mana yang cantik dan
mana yang tampan. Dan dari situlah pada awalnya manusia belajar. Manusia
belajar pada awalnya dengan intuisi yang dibawa sejak lahir.
Dalam
tulisan-tulisan Prof. Marsigit yang lain dalam blog beliau
(powermathematics.blogspot.com), terdapat artikel dimana beliau mengkritik
metode pengajaran matematika saat ini yang berlangsung di Indonesia. Dikatakan
bahwa guru-guru melupakan aspek yang sangat penting yang ada di diri siswa
yakni bahwa setiap siswa memiliki
intuisi masing-masing. Memuntahkan segala ilmu yang dimiliki guru melalui
obrolan panjang satu arah di dalam kelas adalah hal yang menyakiti siswa.
Sebaiknya, guru mendisain sebuah kegiatan pembelajaran dimana siswa mampu aktif
dan menggunakan intuisinya dalam menemukan kesimpulan atau konsep dari materi
yang tengah diajarkan. Hal ini memang sulit, penulis pun mengakui hal itu
karena telah mengalaminya, namun harus dilakukan karena secara alami melalui
intuisi lah manusia belajar segala hal.
Sebagaimana
yang dikatakan Prof. Marsigit, segala hal yang ada dan mungkin ada di dunia ini
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagaikan dua sisi koin logam.
Mitos pun demikian, tidak selamanya ia buruk. Tidak selamanya informasi yang
diba’iat (diputuskan) sebagai mitos adalah hal yang jelek. Ia pun memiliki
kelebihannya sendiri. Apa kelebihannya? Bahwa manusia dapat belajar dari mitos
tersebut. Mari kita ambil contoh, mitos tentang Ratu Nyi Roro Kidul di laut selatan
pulau Jawa. Terdapat banyak hal yang
dilarang atau tidak dianjurkan untuk dilakukan di laut selatan seperti jangan
memakai baju hijau karena hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul, nanti
ditarik ke dalam laut. Jika nelayan hendak melaut pun mereka tidak main-main,
mereka meminta ‘izin’ dari Nyi Roro Kidul untuk melaut dan pulang dengan hasil
tangkapan yang tidak semena-mena.
Apa yang
dapat dipelajari dari mitos seperti itu? Pelajaran yang dapat diambil bahwa
orang-orang menjadi menghargai laut. Mereka tidak memandang rendah laut sebagai
kumpulan air semata, namun memperlakukannya seperti makhluk hidup lainnya yakni
berlaku menghormati dan santun kepadanya. Kelestarian dan keindahan laut
selatan pun terjaga dari keusilan manusia yang hendak mengotorinya. Ya,
mitos-mitos semacam itulah yang membuat manusia urung mengotori laut. Dan masih
banyak lagi mitos-mitos yang ada dan tersebar di berbagai tempat di Indonesia.
Segalanya jika kita lihat dari sisi lain, tentu mengandung kebaikan yang
membuat manusia belajar. Belajar menggunakan intuisi, intuisi alami yang
dimiliki manusia sejak lahir.
Pertanyaan untuk Prof. Dr. Marsigit:
Dapatkah kita mengajarkan matematika
melalui mitos untuk membuat siswa belajar menggunakan intuisinya Pak?
Bagaimanakah contohnya? Trims
Refleksi Perkuliahan Filsafat
Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009Rabu, 28 November 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, MA
Mitos itu istilahnya orang dewasa. Anak kecil jangan diakut-takuti dengan istilah yang belum porsinya. Great. Please continue.
BalasHapusTerima kasih atas kunjungan dan komentarnya di blog saya yang sederhana ini pak. Siap.
HapusAss Jumlah Comment anda per Malem Minggu Tg 20 Januari2013 pk 21.23 adalah 97 belum dikurangi dengan yg double. Wss
BalasHapus