Rabu, 05 Desember 2012

BELAJAR DENGAN INTUISI



Berfilsafat adalah olah pikir. Mengapa demikian? Karena dari sekian banyaknya yang ada dan mungkin ada di dunia ini, tentu kita tidak mampu memikirkan semuanya. Waktu kita bisa habis hanya untuk itu. Oleh karena itu, filsafat ada untuk membuat kita mempelajari mana yang pantas untuk dipikirkan dan mana yang tidak pantas untuk kita pikirkan. Untuk segala hal yang tidak kita pikirkan, dalam filsafat, semua itu dibuang atau diletakkan di rumah “Ephoce” yakni sebuah tempat imajiner dimana segala yang kita tidak pikirkan berada di sana.

Manusia hidup tentu harus berpikir. Segala yang ia lakukan harus didasari oleh pemikiran yang jernih. Namun, apakah harus selalu seperti itu? Apakah kita bisa melakukan sesuatu yang jelas tanpa berpikir? Ya, bisa. Hal tersebut oleh Prof. Marsigit dijelaskan sebagai mitos, yakni sesuatu hal yang sebenarnya tidak masuk akal namun tetap dijalankan atau dilakukan oleh manusia tanpa dasar alasan yang jelas atau logis. Dalam mitos, segala logika jadi layu di sana dan tidak berpengaruh. Lantas apa yang menggerakkan manusia sehingga bisa melakukan hal yang tidak logis seperti itu? Jawabannya yakni manusia menggunakan intuisinya.

Intuisi adalah hal yang alami dimiliki manusia. Semua orang memilikinya. Tidak hanya orang dewasa, sedari bayi pun kita telah memiliki intuisi tersebut. Bayi, meskipun ia tidak mengetahui definisi tentang besar dan kecil, ia tetap mampu membedakan mana objek yang besar dan mana yang kecil. Bayi, meskipun ia tidak diajarkan pengertian cantik dan tampan, ia tetap mampu mengetahui mana yang cantik dan mana yang tampan. Dan dari situlah pada awalnya manusia belajar. Manusia belajar pada awalnya dengan intuisi yang dibawa sejak lahir.

Dalam tulisan-tulisan Prof. Marsigit yang lain dalam blog beliau (powermathematics.blogspot.com), terdapat artikel dimana beliau mengkritik metode pengajaran matematika saat ini yang berlangsung di Indonesia. Dikatakan bahwa guru-guru melupakan aspek yang sangat penting yang ada di diri siswa yakni bahwa setiap siswa memiliki intuisi masing-masing. Memuntahkan segala ilmu yang dimiliki guru melalui obrolan panjang satu arah di dalam kelas adalah hal yang menyakiti siswa. Sebaiknya, guru mendisain sebuah kegiatan pembelajaran dimana siswa mampu aktif dan menggunakan intuisinya dalam menemukan kesimpulan atau konsep dari materi yang tengah diajarkan. Hal ini memang sulit, penulis pun mengakui hal itu karena telah mengalaminya, namun harus dilakukan karena secara alami melalui intuisi lah manusia belajar segala hal.

Sebagaimana yang dikatakan Prof. Marsigit, segala hal yang ada dan mungkin ada di dunia ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagaikan dua sisi koin logam. Mitos pun demikian, tidak selamanya ia buruk. Tidak selamanya informasi yang diba’iat (diputuskan) sebagai mitos adalah hal yang jelek. Ia pun memiliki kelebihannya sendiri. Apa kelebihannya? Bahwa manusia dapat belajar dari mitos tersebut. Mari kita ambil contoh, mitos tentang Ratu Nyi Roro Kidul di laut selatan pulau Jawa.  Terdapat banyak hal yang dilarang atau tidak dianjurkan untuk dilakukan di laut selatan seperti jangan memakai baju hijau karena hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul, nanti ditarik ke dalam laut. Jika nelayan hendak melaut pun mereka tidak main-main, mereka meminta ‘izin’ dari Nyi Roro Kidul untuk melaut dan pulang dengan hasil tangkapan yang tidak semena-mena.

Apa yang dapat dipelajari dari mitos seperti itu? Pelajaran yang dapat diambil bahwa orang-orang menjadi menghargai laut. Mereka tidak memandang rendah laut sebagai kumpulan air semata, namun memperlakukannya seperti makhluk hidup lainnya yakni berlaku menghormati dan santun kepadanya. Kelestarian dan keindahan laut selatan pun terjaga dari keusilan manusia yang hendak mengotorinya. Ya, mitos-mitos semacam itulah yang membuat manusia urung mengotori laut. Dan masih banyak lagi mitos-mitos yang ada dan tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Segalanya jika kita lihat dari sisi lain, tentu mengandung kebaikan yang membuat manusia belajar. Belajar menggunakan intuisi, intuisi alami yang dimiliki manusia sejak lahir.

Pertanyaan untuk Prof. Dr. Marsigit:
Dapatkah kita mengajarkan matematika melalui mitos untuk membuat siswa belajar menggunakan intuisinya Pak? Bagaimanakah contohnya? Trims

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 28 November 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, MA

3 komentar:

  1. Mitos itu istilahnya orang dewasa. Anak kecil jangan diakut-takuti dengan istilah yang belum porsinya. Great. Please continue.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya di blog saya yang sederhana ini pak. Siap.

      Hapus
  2. Ass Jumlah Comment anda per Malem Minggu Tg 20 Januari2013 pk 21.23 adalah 97 belum dikurangi dengan yg double. Wss

    BalasHapus