Rabu, 05 Desember 2012

BELAJAR DENGAN INTUISI



Berfilsafat adalah olah pikir. Mengapa demikian? Karena dari sekian banyaknya yang ada dan mungkin ada di dunia ini, tentu kita tidak mampu memikirkan semuanya. Waktu kita bisa habis hanya untuk itu. Oleh karena itu, filsafat ada untuk membuat kita mempelajari mana yang pantas untuk dipikirkan dan mana yang tidak pantas untuk kita pikirkan. Untuk segala hal yang tidak kita pikirkan, dalam filsafat, semua itu dibuang atau diletakkan di rumah “Ephoce” yakni sebuah tempat imajiner dimana segala yang kita tidak pikirkan berada di sana.

Manusia hidup tentu harus berpikir. Segala yang ia lakukan harus didasari oleh pemikiran yang jernih. Namun, apakah harus selalu seperti itu? Apakah kita bisa melakukan sesuatu yang jelas tanpa berpikir? Ya, bisa. Hal tersebut oleh Prof. Marsigit dijelaskan sebagai mitos, yakni sesuatu hal yang sebenarnya tidak masuk akal namun tetap dijalankan atau dilakukan oleh manusia tanpa dasar alasan yang jelas atau logis. Dalam mitos, segala logika jadi layu di sana dan tidak berpengaruh. Lantas apa yang menggerakkan manusia sehingga bisa melakukan hal yang tidak logis seperti itu? Jawabannya yakni manusia menggunakan intuisinya.

Intuisi adalah hal yang alami dimiliki manusia. Semua orang memilikinya. Tidak hanya orang dewasa, sedari bayi pun kita telah memiliki intuisi tersebut. Bayi, meskipun ia tidak mengetahui definisi tentang besar dan kecil, ia tetap mampu membedakan mana objek yang besar dan mana yang kecil. Bayi, meskipun ia tidak diajarkan pengertian cantik dan tampan, ia tetap mampu mengetahui mana yang cantik dan mana yang tampan. Dan dari situlah pada awalnya manusia belajar. Manusia belajar pada awalnya dengan intuisi yang dibawa sejak lahir.

Dalam tulisan-tulisan Prof. Marsigit yang lain dalam blog beliau (powermathematics.blogspot.com), terdapat artikel dimana beliau mengkritik metode pengajaran matematika saat ini yang berlangsung di Indonesia. Dikatakan bahwa guru-guru melupakan aspek yang sangat penting yang ada di diri siswa yakni bahwa setiap siswa memiliki intuisi masing-masing. Memuntahkan segala ilmu yang dimiliki guru melalui obrolan panjang satu arah di dalam kelas adalah hal yang menyakiti siswa. Sebaiknya, guru mendisain sebuah kegiatan pembelajaran dimana siswa mampu aktif dan menggunakan intuisinya dalam menemukan kesimpulan atau konsep dari materi yang tengah diajarkan. Hal ini memang sulit, penulis pun mengakui hal itu karena telah mengalaminya, namun harus dilakukan karena secara alami melalui intuisi lah manusia belajar segala hal.

Sebagaimana yang dikatakan Prof. Marsigit, segala hal yang ada dan mungkin ada di dunia ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagaikan dua sisi koin logam. Mitos pun demikian, tidak selamanya ia buruk. Tidak selamanya informasi yang diba’iat (diputuskan) sebagai mitos adalah hal yang jelek. Ia pun memiliki kelebihannya sendiri. Apa kelebihannya? Bahwa manusia dapat belajar dari mitos tersebut. Mari kita ambil contoh, mitos tentang Ratu Nyi Roro Kidul di laut selatan pulau Jawa.  Terdapat banyak hal yang dilarang atau tidak dianjurkan untuk dilakukan di laut selatan seperti jangan memakai baju hijau karena hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul, nanti ditarik ke dalam laut. Jika nelayan hendak melaut pun mereka tidak main-main, mereka meminta ‘izin’ dari Nyi Roro Kidul untuk melaut dan pulang dengan hasil tangkapan yang tidak semena-mena.

Apa yang dapat dipelajari dari mitos seperti itu? Pelajaran yang dapat diambil bahwa orang-orang menjadi menghargai laut. Mereka tidak memandang rendah laut sebagai kumpulan air semata, namun memperlakukannya seperti makhluk hidup lainnya yakni berlaku menghormati dan santun kepadanya. Kelestarian dan keindahan laut selatan pun terjaga dari keusilan manusia yang hendak mengotorinya. Ya, mitos-mitos semacam itulah yang membuat manusia urung mengotori laut. Dan masih banyak lagi mitos-mitos yang ada dan tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Segalanya jika kita lihat dari sisi lain, tentu mengandung kebaikan yang membuat manusia belajar. Belajar menggunakan intuisi, intuisi alami yang dimiliki manusia sejak lahir.

Pertanyaan untuk Prof. Dr. Marsigit:
Dapatkah kita mengajarkan matematika melalui mitos untuk membuat siswa belajar menggunakan intuisinya Pak? Bagaimanakah contohnya? Trims

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 28 November 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, MA

Rabu, 21 November 2012

Tersesat di Ruang dan Waktu



Tiada maksud apa-apa untuk menyampaikan judul yang cukup nyeleneh. Ini hanya merupakan hasil refleksi dari perkuliahan Filasafat Pendidikan Matematika dengan Prof. Dr. Marsigit (Selamat kepada Bapak Marsigit yang telah memperoleh gelar Professor tersebut, sungguh membanggakan) waktu yang lalu. Pada perkuliahan tersebut beliau menyampaikan tentang bagaimana menembus ruang dan waktu. Semua yang ada di alam ini senantiasa menembus ruang dan waktu. Mulai dari manusia yang berfilsafat, manusia awam yang tidak berfilsafat, anak-anak, binatang, maupun tumbuhan, bahkan batu (oh ya, batu bung!) pun menembus ruang dan waktu. Jangankan apa yang dipikirkan, apa yang tidak dipikirkan pun menembus ruang dan waktu. Semua itu terjadi tanpa kita sadari, berlangsung dengan proses begitu saja. Itulah mengapa kita merasakan adanya masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Ada tiga bekal yang dipertimbangkan untuk menembus ruang dan waktu yaitu:
1.      Paham tentang ruang dan waktu.
Ruang itu ada dimensi 0, 1, 2, 3, dan seterusnya sampai tak hingga. Kita memahami makna ruang dari aspek spiritualism. Para spiritualism membagi empat ruang, yaitu materialism, formalism, normatifsism, dan spiritualism. Segala sesuatu dapat menempati keempat ruang tersebut. Sedangkan waktu, ada waktu berurutan, berkelanjutan, dan berkesatuan.
2.      Memahami tentang adanya filsafat fenomenologi.
Fenomenologi diperlukan untuk menyebut bermacam-macam ruang dan waktu. Menurut Husserr, fenomenologi meliputi abstraksi dan idealisasi. Sebenar-benar manusia adalah abstraksi, yaitu hidup dengan memilih. Kita melihat hanya memilih yang depan saja, tidak bisa melihat belakang. Hanya memilih satu titik saja, tidak memilih ke banyak titik. Berbicara pun memilih, tidak bisa sekaligus. Inilah yang disebut dengan prinsip reduksi. Berpikirpun juga dengan abstraksi, hanya memilih satu hal. Hal-hal yang tidak kita pikirkan, kita buang/letakkan di rumah ephoce.
3.      Memahami tentang filsafat foundasionalism dan antitesisnya.
Fundasionalism berangkat dari definisi, aksioma, teorema, dan seterusnya. Kaum fundasionalism tahu dan selalu memikirkan kapan mulainya sesuatu. Tetapi, apa yang terjadi pada diri kita, sebagian besar tidak diketahui kapan mulainya. Itulah antitesis dari fundasionalism, yaitu intuisionalism. Banyak hal-hal yang bisa kita ketahui tanpa harus tahu definisinya. Contohnya, kita tidak tahu kapan kita bisa membedakan antara besar dan kecil. Manusia merupakan kaum fundasionalism sekaligus intuisionalism, maka disebut kontradiksi.

Terkadang banyak manusia yang tidak memahami bekal untuk menembus ruang dan waktu tersebut, sepertinya kebanyakan manusia bahkan tidak mengetahui hal-hal tersebut. Inilah keadaan yang saya pertanyakan sebagai keadaan tersesat di ruang dan waktu. Kita lihat di sekeliling kita banyak orang yang merasa dirinya hanya eksis di suatu masa saja, masa muda misalkan. Tidak menyadari bahwa fisik dan usia pun melewati ruang dan waktu atau dengan kata lain bahwa mereka tentu akan merasakan tua juga, dengan segala konsekuensinya. Kondisi dimana manusia tidak menyadari hakekat ruang dan waktu yang berlangsung di dirinya dan sekitarnya yang saya sebut sebagai tersesat di ruang dan waktu. Efek lainnya ialah kegilaan yang muncul akibat tidak bisa menafsirkan dimana ruang dan waktu ia berada sekarang, Bahkan ketika kita diam pun, ruang dan waktu terus berjalan dan berputar.

Dalam menyikapi hal tersebut, sebaiknya kita bisa mengatur waktu kita agar bisa efektif dan efisien. Menyadari hakikat adanya ruang dan waktu kemudian memanfaatkan sebaik-baik waktu dan ruang yang diberikan Allah kepada kita dengan sebaik-baiknya. Hal lain yang didapatkan adalah kita memikirkan sesuatu satu per satu, tidak sekaligus. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat mengerjakan sesuatu dengan fokus. Meninggalkan hal-hal yang tidak semestinya dipikirkan. Dengan begini, kita dapat meninggalkan keadaan ‘tersesat’ dan kembali ke jalan yang benar.

Pertanyaan untuk Prof. Dr. Marsigit:
Dapatkah manusia lepas dari keadaan tersesat dalam ruang dan waktu? Apa senjatanya Pak? Trims

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 7 November 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, MA

Rabu, 07 November 2012

Superman, other side

Jadi, ceritanya sekarang gue lagi seneng banget sama lagu yang dinyanyiin Five For Fighting terus dinyanyiin ulang (cover) sama Boyce Avenue yang judulnya Superman. Selain musikalitasnya yang aduhai #ceilaa, gue juga seneng liriknya. Ternyata liriknya dalem banget...

Berdasarkan pemahaman gue dari lagu ini, liriknya menceritakan tentang sisi lain dari Superman. Orang-orang kan cuma ngeliatnya dari satu sisi tuh, cuma sebagai pahlawan, ga mempan ditembak apalagi ditabok. Dilihat sebagai simbol atau bahkan alat dimana dia dibutuhin banget pas ada kejahatan. Tapi, ada ga sih yang coba memandangnya sebagai manusia? Sebagai 'seseorang'?

Buat yang mau ngeliatnya sebagai  manusia, pasti bingung. Masalahnya dia ini manusia apa bukan? Jelas-jelas dia ini dari planet lain. Ga ada lah manusia yang sekuat dia, otot kawat tulang besi lah ceritanya. Nah, kebayang ga misalkan bener-bener ada Superman di dunia kita, perasaannya kaya apa? Dari sisi fisiologis en biologis dia manusia, tapi dari sisi kemampuan en silsilah jelas dia bukan manusia. Can you feel how absurd your heart can be in a situation where you are not fully belong in one side?

Lagu ini nyeritain bahwa Superman yang diceritain lagi gundah hatinya. Dia juga mau ngerasain perasaan manusia. "Even Heroes have the right to bleed" atau "Even Heroes have the right to dream" adalah beberapa penggalan lirik lagu tu. Well, its true! Mereka juga boleh terluka, boleh juga bermimpi, layaknya manusia-manusia yang dilindunginya.

Di kehidupan nyata kita juga menemui banyak "Superman-Superman" yang punya peranan penting di berbagai sektor dan bidang di kehidupan. Tapi, pernahkah kita memandang mereka dari sisi kemanusiaan mereka? Bahwa mereka juga punya hati dan perasaan, mereka juga berhak mendapatkan privasi, keamanan, kenyamanan, layaknya kita yang mereka lindungi. Bentuk mereka bisa macam-macam, dari yang berpenampilan menarik hingga berpenampilan lusuh. Jangan salah artikan Superman di sini adalah mereka yang menghuni kursi empuk dan ruangan nyaman di Senayan sana, salah besar. Superman di sini adalah mereka yang mau-maunya berkorban untuk orang lain, ga peduli seberapa sibuk mereka atau bahkan mereka ga dibayar untuk bekerja kepada kemaslahatan umat banyak. Ada aja kan orang-orang Super kaya gitu?

Well, mari kita berusaha memandang sesuatu tidak hanya dari satu sisi..Layaknya koin yang bersisian di dua sisi, bahkan bila sisi lainnya adalah keburukan, tetap kita harus memperhatikannya. Karena itulah hidup. Kamu ga bisa memilih mau hidup di dunia yang isinya baik-baik aja. Hidup adalah perpaduan baik dan buruk. Oleh karena itu, mari belajar supaya tidak berat sebelah. Jika Superman juga dianggap bahwa ia juga memiliki hati yang sama seperti kita, dia juga mungkin tidak perlu menyembunyikan identitasnya di balik kacamata dan rambutnya culunnya itu.

MENEMUKAN HIKMAH DI BALIK BAYANGAN



Pada perkuliahan filsafat pendidikan matematika yang lalu, saya menanyakan kepada Bapak Marsigit terkait filsafat di balik wayang. Hal ini dikarenakan saya tertarik dengan tulisan beliau di blog beliau yang diberi judul elegi wayang golek. Saya bertanya, apakah makna secara filsafat di balik wayang-wayang lain selain wayang golek?Wayang kulit, wayang wong misalkan. Saya penasaran dengan makna wayang tersebut diciptakan.

Perkenalan saya dengan wayang adalah melalui orang tua saya, khususnya bapak saya. Jaman ketika saya masih kecil, di TVRI sering ditayangkan wayang pada larut malam. Terkadang, ketika saya terbangun ingin buang air kecil saya sering mendapati bapak saya sedang asyik menonton tontonan tersebut. Saya yang sedari kecil memang tidak bisa bahasa Jawa, apalagi bahasa Jawa yang digunakan dalam pewayangan, tentu hanya bisa bingung melihat tontonan itu. Tapi saya tertarik dengan permainan ‘mainan’ yang digerakkan tersebut. Kadang terlihat seorang tokoh sedang menasihati tokoh lain, ada yang terlihat sedang bertengkar dan ada yang digerakkan sedemikian rupa sehingga kedua tokoh sedang terlibat perkelahian. Terlebih ketika yang ditayangkan adalah bayangannya di balik kain putih besar, seolah-olah hidup! Ya! Mereka hidup dengan segala gerakannya. Sungguh luar biasa.

Beranjak dewasa, saya makin memahami bahwa wayang adalah hasil kreatifitas tinggi yang memadukan unsur kesenian Hindu dengan nilai-nilai ajaran Islam yang dibawakan oleh Wali Songo. Wayang dibuat sedemikian rupa agar tidak semirip orang aslinya namun tetap mempresentasikan manusia. Jika kita memperhatikan, jelas sekali terlihat bahwa dunia pewayangan dibagi dua, ada tokoh-tokoh yang baik dan biasanya digambarkan dengan wajah yang rupawan, mirip manusia utuh, dengan mata sayu yang terlihat mereka sering bertapa dan ikhlas akan keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada pula tokoh-tokoh yang tidak baik yang digambarkan dengan perut buncit, mata lebar, mulut menganga. Ini menggambarkan bahwa kehidupan di dunia merupakan pergulatan antar baik dan buruk, dan akan berlangsung selamanya. Hasil kreatifitas para Wali Songo adalah memasukkan nilai-nilai Islam pada kesenian yang digemari sejak jaman Hindu dahulu kala sehingga di masa kini masih terdapat istilah-istilah Islam yang digunakan seperti Jamus Kalimosodo (Kalimo=5 rukun Islam, sodo=Syahadat) dan sebagainya.

Menurut penjelasan dari Bapak Marsigit, wayang berasal dari kata bayangan. Bayangan memiliki makna bahwa ia tersembunyi di balik objek. Hal ini berarti setiap pementasan wayang pasti mengungkapkan sebuah makna dan hikmah di balik cerita yang ditampilkan. Hal ini menggambarkan bahwa di kehidupan manusia, manusia pun dituntut untuk selalu mempu menemukan hikmah di balik segala peristiwa yang ada. Memahaminya dan kemudian mampu bersyukur kepada Tuhan atas segala kenikmatan yang diterimanya dan memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan yang dibuatnya.

Tokoh-tokoh di pewayangan bermacam-macam, tokoh-tokoh tersebut adalah kreasi dari tokoh-tokoh yang ada dan mungkin ada di dunia ini. Begitu pula di filsafat, kita mampu menuliskan siapapun tokoh yang dikehendaki asalkan dia ada dan mungkin ada.Dengan adanya tokoh-tokoh tersebut kita diharapkan mampu menerjemahkan dan mendeskripsikan apa yang ada dan mungkin ada. Kembali lagi ke perenungan dan pemetikan hikmah dari cerita dan peristiwa yang ada. Oleh karenanya wayang seringkali digunakan untuk membelajarkan masyarakat tentang nilai-nilai baik dan norma-norma luhur.

Terlepas dari pandangan sebagian orang yang menganggap bahwa wayang adalah syirik, atau bid’ah atau apapun itu yang dirasa bukan merupakan ajaran agama, saya merasa bahwa itu adalah hak individu masing-masing. Perbedaan pendapat tersebut dikarenakan perbedaan sudut pandang dalam melihat wayang dan juga didasari oleh pemahaman masing-masing individu akan agama yang dianutnya. Saya tidak terlalu mempermasalahkan itu. Saya tetap merasa bahwa wayang adalah sebuah kesenian yang luar biasa. Hasil karya cipta rasa dan karsa yang tinggi dari para pendahulu kita. Wayang bukan hanya sekedar puppet atau boneka biasa yang dipertunjukkan. Nilainya terletak kepada kemampuannya untuk memberikan hikmah dan kebaikan di balik peristiwa. Kemampuannya yang fleksibel untuk menceritakan berbagai peristiwa di kehidupan nyata yang dituangkan dengan kehidupan di dunia pewayangan membuatnya menjadi sarana yang menarik untuk refleksi diri, refleksi kehidupan kita. Refleksi kehidupan manusia yang dipresentasikan melalui sebuah pertunjukkan bayangan yang indah dan hidup. Yang dimaksudkan agar segenap manusia mampu menarik hikmah dan kesimpulan di baliknya.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Bagaimana bila wayang disalahgunakan untuk menyampaikan nilai-nilai keburukan, dapatkah hal seperti itu terjadi?
2.      Dalam filsafat, tokoh yang dimunculkan adalah tokoh yang ada dan mungkin ada menurut pemahaman kita akan dunia, dapatkah orang lain memahami tokoh-tokoh yang kita ciptakan itu sebagaimana kita memahami tokoh rekaan kita sendiri? Atau kita biarkan masing-masing orang memahaminya sendiri-sendiri sesuai pemahaman mereka masing-masing?


Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 31 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA

Selasa, 30 Oktober 2012

Down

Apa yang sudah aku lakukan selama ini ?

_sekedar coretan emosi

Rabu, 10 Oktober 2012

REFLEKSIKAN HIDUPMU


Berfilsafat adalah refleksi. Refleksi akan pengalamanmu, refleksi akan ilmumu, refleksi akan kehidupanmu dan kehidupan di sekitarmu. Maka itulah yang disebut olah fikir dan itulah yang dirasakan kurang dimiliki oleh orang-orang sekarang ini. Mereka berjalan dalam arus manusia yang deras, berpacu dengan waktu dan kesibukan namun rata-rata dari mereka tidak berfikir. Tidak ada yang mau berhenti dan merefleksikan hidup. Ini yang berbahaya. Merasa bisa dan mengerti tentang hakikat dunia hanya berdasarkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki sekarang.

Pada pertemuan kedua perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika bersama Dr. Marsigit, MA  setelah minggu sebelumnya sempat rehat sejenak akibat kesibukan Bapak Marsigit di luar kota, kami diminta untuk menyerahkan hasil refleksi kami terhadap perkuliahan minggu sebelumnya. Hasil refleksi tersebut yang diketik dan dikumpulkan secara hardcopy diharuskan disertai oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari perkuliahan sebelumnya. Saya mendapat kehormatan untuk menjadi orang pertama yang pertanyaan-pertanyaannya dijawab secara langsung oleh Dr. Marsigit.

Pertanyaan pertama saya adalah Apakah filsafat harus membuat orang lain tidak jelas? Hal ini merupakan kegelisahan saya terhadap pertemuan sebelumnya dimana Bapak Marsigit sempat menjelaskan bahwa filsafat membahas hal yang jelas menjadi tidak jelas. Namun kegundahan saya beliau jawab dengan halus bahwa keberhasilan filsafat adalah ketika ia dapat membuat orang lain menjadi sangat jelas, terang-benderang. Tantangan orang berfilsafat ialah bagaimana membuat orang lain menjadi jelas. Dan ini merupakan sebuah hubungan timbal balik, bila orang lain tersebut masih bingung maka mungkin terdapat masalah di filsafatnya atau orang tersebut yang masih harus belajar lebih.

Pertanyaan kedua saya ialah Bagaimana bila kami ingin berfilsafat dan mengutarakan apa yang ada di fikiran kami kepada orang lain secara jelas? Dapatkah disebut sebagai filsafat? Mengenai hal ini beliau secara gamblang menjelaskan bahwa persoalan filsafat ada 2:
1.      Jika apa yang sedang engkau fikirkan ada di luar fikiranmu, bagaimana caramu mengetahuinya?
2.      Jika apa yang sedang engkau fikirkan berada di dalam fikiranmu, bagaimana orang lain dapat mengetahuinya?
Maka sebenar-benar orang adalah mereka yang tidak mampu untuk mengetahui segalanya dan sebodoh-bodoh orang adalah mereka yang merasa bisa mengetahuinya. Dengan jelas, beliau mencontohkan bahwa beliau pun masih belum mampu untuk mengungkapkan dan menjelaskan rasa cintanya terhadap istri beliau. Meskipun dituliskan buku setebal 2 meter pun masih belum akan mampu menjelaskan cintanya selama ini. Hal ini dikarenakan buku tersebut mungkin mampu menjelaskan cintanya hari ini dan yang telah lalu, namun bagaimana bila besok? 5 tahun lagi? 10, 20, 100 tahun lagi? Sejujurnya manusia tidak akan mampu menjelaskan itu semua. Maka Si Maha Menjelaskan adalah Tuhan, Dia yang mampu menjelaskan secara tuntas beserta contoh-contohnya secara blak-blakan. Hanya saja manusia tidak mampu memahaminya dan tidak mau berfikir.

Pertanyaan saya yang ketiga ialah Dalam kondisi apakah kami disebut layak dikatakan untuk memulai berfilsafat? Filsafat adalah olah fikir yang refleksif, itu jawab beliau. Beliau menambahkan bahwa tatanan hidup manusia dibagi dua, tatanan atas yakni logika dan alam fikiran sedangkan tatanan bawah adalah pengalaman. Sebagai seorang mahasiswa, saya dan kawan-kawan sudah berusia 20-21 tahun, kurang pengalaman apa? Dr. Marsigit sudah berusia 55 tahun, kurang pengalaman apa? Usia hanya beda sedikit, namun sesungguhnya tidaklah berbeda jauh dari segi hidup. Toh jika usia kita ditambah 100 atau 200 tahun lagi, apalah perbedaan 30 tahunan itu antara kami dan Pak Marsigit? Sama-sama sudah menjadi fosil. Jadi, manusia sudah cukup mampu dikatakan untuk berfilsafat. Manusia telah memiliki akal pikiran dan pengalaman, pertanyaannya adalah apakah manusia mampu merefleksikan hidupnya menggunakan akal dan pengalamannya. Kita mampu merefleksikan hidup dan kehidupan kita menggunakan akal dan pengalaman kita yang kita dapat selama kita hidup, itu sudah cukup untuk menjadikan kondisi kita layak berfilsafat.

Pertanyaan saya yang keempat ialah Bagaimana mengembalikan orisinalitas pikiran bila kita terlalu terpengaruh filsafat orang lain? Tentang hal ini Dr. Marsigit mengoreksi saya bahwa ketika belajar kita tidak boleh berburuk sangka. Pertanyaan saya mengindikasikan bahwa pemikiran orang lain menjadi buruk, padahal tidak semua pemikiran orang lain itu buruk. Tidak ada satupun pemikir filsafat di dunia ini yang tidak terpengaruh orang pemikiran orang lain. Hal ini ibarat kita berlayar ke tengah samudera, kita harus tahu sekelling kita, air di sekitar kita, keadaan angin, cuaca dan sebagainya. Kita hidup berfilsafat pasti dikelilingi oleh filsafat-filsafat orang lain, maka berinteraksilah. Terjemah dan saling menerjemahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai keseimbangan, keseimbangan berfikir, keseimbangan hidup. Mengembalikan orisinalitas maksudnya ialah mendapatkan pure reason dari kita berfilsafat. Dan itu hanya didaptkan ketika kita sedang dalam posisi seimbang, tidak dikejar-kejar penagih hutang, tidak dikejar-kejar permasalahan hidup yang lain.

Pertanyaan saya yang kelima, pertanyaan yang secara spontan saya tuliskan dan saya ajukan saat perkuliahan dengan saya tuliskan di bawah tulisan-tulisan saya sebelumnya ialah Apa sebenarnya yang coba diungkapkan oleh filsafat? Obyek filsafat adalah segala yang ada dan mungkin ada. Hidup ini setiap saat adalah mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Filsafat pun begitu, dari yang tidak sadar menjadi sadar.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya dari teman-teman saya – Rosalia, Wahyu, Istanto, dll- berkisar tentang hal yang serupa dengan pemikiran saya. Sebagai sama-sama beginner dalam dunia filsafat, kami sama-sama gundah tentang dunia yang tengah kami pijaki ini. Apakah filsafat harus membuat kita jadi bingung? Bagaimana agar cara kami tidak bingung? Pertanyaan-pertanyaan itu menurut saya adalah wajar ditanyakan bila kita baru memasuki dunia yang filsafat yang baru ini. Jawaban dari kebingungan kami ialah bahwa kami semestinya meletakkan do’a di setiap langkah filsafat kami. Berdo’a supaya diberikan ilmu dan kekuatan agar mampu memahami. Bila bingung masih berlanjut, maka berhentilah sejenak. Tidak usah berfikir. Tidur, tinggalkan. Mudah bukan?

Manusia sadar bahwa kita memiliki akal dan pengalaman. Beberapa sadar bahwa akal dan pengalaman tersebut terakumulasi setiap hari, setiap detik, setiap waktu. Sedikit sekali yang sadar bahwa kita yang sekarang adalah kita yang berbeda dari kita yang tadi, kemarin, 2 detik lalu. Dan hanya secuil sadar bahwa akal dan pengalaman itu semestinya digunakan untuk merefleksikan hidup. Merefleksikan melalui olah pikir. Olah pikir yang dijernihkan dan dibentengi dengan do’a. Do’a do’a do’a do’a do’a … do’a dst. Maka sesungguhnya merefleksikan hidup sama saja berikir tentang kebesaran Allah Yang Agung. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mampu menjadi seperti itu.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Bagaimana kita bisa mengetahui orang lain menjadi jelas dengan filsafat kita?
2.      Bagaimana kita menghindari debat kusir dengan orang lain padahal yang kita mau adalah berinteraksi untuk saling mendapatkan ilmu dalam berfilsafat?
3.      Apakah kita dapat menjelaskan filsafat kita kepada orang yang usianya di bawah kita dan mungkin tahapan berfikirnya tidak sama dengan kita?




Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 3 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA