Rabu, 21 November 2012

Tersesat di Ruang dan Waktu



Tiada maksud apa-apa untuk menyampaikan judul yang cukup nyeleneh. Ini hanya merupakan hasil refleksi dari perkuliahan Filasafat Pendidikan Matematika dengan Prof. Dr. Marsigit (Selamat kepada Bapak Marsigit yang telah memperoleh gelar Professor tersebut, sungguh membanggakan) waktu yang lalu. Pada perkuliahan tersebut beliau menyampaikan tentang bagaimana menembus ruang dan waktu. Semua yang ada di alam ini senantiasa menembus ruang dan waktu. Mulai dari manusia yang berfilsafat, manusia awam yang tidak berfilsafat, anak-anak, binatang, maupun tumbuhan, bahkan batu (oh ya, batu bung!) pun menembus ruang dan waktu. Jangankan apa yang dipikirkan, apa yang tidak dipikirkan pun menembus ruang dan waktu. Semua itu terjadi tanpa kita sadari, berlangsung dengan proses begitu saja. Itulah mengapa kita merasakan adanya masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Ada tiga bekal yang dipertimbangkan untuk menembus ruang dan waktu yaitu:
1.      Paham tentang ruang dan waktu.
Ruang itu ada dimensi 0, 1, 2, 3, dan seterusnya sampai tak hingga. Kita memahami makna ruang dari aspek spiritualism. Para spiritualism membagi empat ruang, yaitu materialism, formalism, normatifsism, dan spiritualism. Segala sesuatu dapat menempati keempat ruang tersebut. Sedangkan waktu, ada waktu berurutan, berkelanjutan, dan berkesatuan.
2.      Memahami tentang adanya filsafat fenomenologi.
Fenomenologi diperlukan untuk menyebut bermacam-macam ruang dan waktu. Menurut Husserr, fenomenologi meliputi abstraksi dan idealisasi. Sebenar-benar manusia adalah abstraksi, yaitu hidup dengan memilih. Kita melihat hanya memilih yang depan saja, tidak bisa melihat belakang. Hanya memilih satu titik saja, tidak memilih ke banyak titik. Berbicara pun memilih, tidak bisa sekaligus. Inilah yang disebut dengan prinsip reduksi. Berpikirpun juga dengan abstraksi, hanya memilih satu hal. Hal-hal yang tidak kita pikirkan, kita buang/letakkan di rumah ephoce.
3.      Memahami tentang filsafat foundasionalism dan antitesisnya.
Fundasionalism berangkat dari definisi, aksioma, teorema, dan seterusnya. Kaum fundasionalism tahu dan selalu memikirkan kapan mulainya sesuatu. Tetapi, apa yang terjadi pada diri kita, sebagian besar tidak diketahui kapan mulainya. Itulah antitesis dari fundasionalism, yaitu intuisionalism. Banyak hal-hal yang bisa kita ketahui tanpa harus tahu definisinya. Contohnya, kita tidak tahu kapan kita bisa membedakan antara besar dan kecil. Manusia merupakan kaum fundasionalism sekaligus intuisionalism, maka disebut kontradiksi.

Terkadang banyak manusia yang tidak memahami bekal untuk menembus ruang dan waktu tersebut, sepertinya kebanyakan manusia bahkan tidak mengetahui hal-hal tersebut. Inilah keadaan yang saya pertanyakan sebagai keadaan tersesat di ruang dan waktu. Kita lihat di sekeliling kita banyak orang yang merasa dirinya hanya eksis di suatu masa saja, masa muda misalkan. Tidak menyadari bahwa fisik dan usia pun melewati ruang dan waktu atau dengan kata lain bahwa mereka tentu akan merasakan tua juga, dengan segala konsekuensinya. Kondisi dimana manusia tidak menyadari hakekat ruang dan waktu yang berlangsung di dirinya dan sekitarnya yang saya sebut sebagai tersesat di ruang dan waktu. Efek lainnya ialah kegilaan yang muncul akibat tidak bisa menafsirkan dimana ruang dan waktu ia berada sekarang, Bahkan ketika kita diam pun, ruang dan waktu terus berjalan dan berputar.

Dalam menyikapi hal tersebut, sebaiknya kita bisa mengatur waktu kita agar bisa efektif dan efisien. Menyadari hakikat adanya ruang dan waktu kemudian memanfaatkan sebaik-baik waktu dan ruang yang diberikan Allah kepada kita dengan sebaik-baiknya. Hal lain yang didapatkan adalah kita memikirkan sesuatu satu per satu, tidak sekaligus. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat mengerjakan sesuatu dengan fokus. Meninggalkan hal-hal yang tidak semestinya dipikirkan. Dengan begini, kita dapat meninggalkan keadaan ‘tersesat’ dan kembali ke jalan yang benar.

Pertanyaan untuk Prof. Dr. Marsigit:
Dapatkah manusia lepas dari keadaan tersesat dalam ruang dan waktu? Apa senjatanya Pak? Trims

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 7 November 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, MA

Rabu, 07 November 2012

Superman, other side

Jadi, ceritanya sekarang gue lagi seneng banget sama lagu yang dinyanyiin Five For Fighting terus dinyanyiin ulang (cover) sama Boyce Avenue yang judulnya Superman. Selain musikalitasnya yang aduhai #ceilaa, gue juga seneng liriknya. Ternyata liriknya dalem banget...

Berdasarkan pemahaman gue dari lagu ini, liriknya menceritakan tentang sisi lain dari Superman. Orang-orang kan cuma ngeliatnya dari satu sisi tuh, cuma sebagai pahlawan, ga mempan ditembak apalagi ditabok. Dilihat sebagai simbol atau bahkan alat dimana dia dibutuhin banget pas ada kejahatan. Tapi, ada ga sih yang coba memandangnya sebagai manusia? Sebagai 'seseorang'?

Buat yang mau ngeliatnya sebagai  manusia, pasti bingung. Masalahnya dia ini manusia apa bukan? Jelas-jelas dia ini dari planet lain. Ga ada lah manusia yang sekuat dia, otot kawat tulang besi lah ceritanya. Nah, kebayang ga misalkan bener-bener ada Superman di dunia kita, perasaannya kaya apa? Dari sisi fisiologis en biologis dia manusia, tapi dari sisi kemampuan en silsilah jelas dia bukan manusia. Can you feel how absurd your heart can be in a situation where you are not fully belong in one side?

Lagu ini nyeritain bahwa Superman yang diceritain lagi gundah hatinya. Dia juga mau ngerasain perasaan manusia. "Even Heroes have the right to bleed" atau "Even Heroes have the right to dream" adalah beberapa penggalan lirik lagu tu. Well, its true! Mereka juga boleh terluka, boleh juga bermimpi, layaknya manusia-manusia yang dilindunginya.

Di kehidupan nyata kita juga menemui banyak "Superman-Superman" yang punya peranan penting di berbagai sektor dan bidang di kehidupan. Tapi, pernahkah kita memandang mereka dari sisi kemanusiaan mereka? Bahwa mereka juga punya hati dan perasaan, mereka juga berhak mendapatkan privasi, keamanan, kenyamanan, layaknya kita yang mereka lindungi. Bentuk mereka bisa macam-macam, dari yang berpenampilan menarik hingga berpenampilan lusuh. Jangan salah artikan Superman di sini adalah mereka yang menghuni kursi empuk dan ruangan nyaman di Senayan sana, salah besar. Superman di sini adalah mereka yang mau-maunya berkorban untuk orang lain, ga peduli seberapa sibuk mereka atau bahkan mereka ga dibayar untuk bekerja kepada kemaslahatan umat banyak. Ada aja kan orang-orang Super kaya gitu?

Well, mari kita berusaha memandang sesuatu tidak hanya dari satu sisi..Layaknya koin yang bersisian di dua sisi, bahkan bila sisi lainnya adalah keburukan, tetap kita harus memperhatikannya. Karena itulah hidup. Kamu ga bisa memilih mau hidup di dunia yang isinya baik-baik aja. Hidup adalah perpaduan baik dan buruk. Oleh karena itu, mari belajar supaya tidak berat sebelah. Jika Superman juga dianggap bahwa ia juga memiliki hati yang sama seperti kita, dia juga mungkin tidak perlu menyembunyikan identitasnya di balik kacamata dan rambutnya culunnya itu.

MENEMUKAN HIKMAH DI BALIK BAYANGAN



Pada perkuliahan filsafat pendidikan matematika yang lalu, saya menanyakan kepada Bapak Marsigit terkait filsafat di balik wayang. Hal ini dikarenakan saya tertarik dengan tulisan beliau di blog beliau yang diberi judul elegi wayang golek. Saya bertanya, apakah makna secara filsafat di balik wayang-wayang lain selain wayang golek?Wayang kulit, wayang wong misalkan. Saya penasaran dengan makna wayang tersebut diciptakan.

Perkenalan saya dengan wayang adalah melalui orang tua saya, khususnya bapak saya. Jaman ketika saya masih kecil, di TVRI sering ditayangkan wayang pada larut malam. Terkadang, ketika saya terbangun ingin buang air kecil saya sering mendapati bapak saya sedang asyik menonton tontonan tersebut. Saya yang sedari kecil memang tidak bisa bahasa Jawa, apalagi bahasa Jawa yang digunakan dalam pewayangan, tentu hanya bisa bingung melihat tontonan itu. Tapi saya tertarik dengan permainan ‘mainan’ yang digerakkan tersebut. Kadang terlihat seorang tokoh sedang menasihati tokoh lain, ada yang terlihat sedang bertengkar dan ada yang digerakkan sedemikian rupa sehingga kedua tokoh sedang terlibat perkelahian. Terlebih ketika yang ditayangkan adalah bayangannya di balik kain putih besar, seolah-olah hidup! Ya! Mereka hidup dengan segala gerakannya. Sungguh luar biasa.

Beranjak dewasa, saya makin memahami bahwa wayang adalah hasil kreatifitas tinggi yang memadukan unsur kesenian Hindu dengan nilai-nilai ajaran Islam yang dibawakan oleh Wali Songo. Wayang dibuat sedemikian rupa agar tidak semirip orang aslinya namun tetap mempresentasikan manusia. Jika kita memperhatikan, jelas sekali terlihat bahwa dunia pewayangan dibagi dua, ada tokoh-tokoh yang baik dan biasanya digambarkan dengan wajah yang rupawan, mirip manusia utuh, dengan mata sayu yang terlihat mereka sering bertapa dan ikhlas akan keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada pula tokoh-tokoh yang tidak baik yang digambarkan dengan perut buncit, mata lebar, mulut menganga. Ini menggambarkan bahwa kehidupan di dunia merupakan pergulatan antar baik dan buruk, dan akan berlangsung selamanya. Hasil kreatifitas para Wali Songo adalah memasukkan nilai-nilai Islam pada kesenian yang digemari sejak jaman Hindu dahulu kala sehingga di masa kini masih terdapat istilah-istilah Islam yang digunakan seperti Jamus Kalimosodo (Kalimo=5 rukun Islam, sodo=Syahadat) dan sebagainya.

Menurut penjelasan dari Bapak Marsigit, wayang berasal dari kata bayangan. Bayangan memiliki makna bahwa ia tersembunyi di balik objek. Hal ini berarti setiap pementasan wayang pasti mengungkapkan sebuah makna dan hikmah di balik cerita yang ditampilkan. Hal ini menggambarkan bahwa di kehidupan manusia, manusia pun dituntut untuk selalu mempu menemukan hikmah di balik segala peristiwa yang ada. Memahaminya dan kemudian mampu bersyukur kepada Tuhan atas segala kenikmatan yang diterimanya dan memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan yang dibuatnya.

Tokoh-tokoh di pewayangan bermacam-macam, tokoh-tokoh tersebut adalah kreasi dari tokoh-tokoh yang ada dan mungkin ada di dunia ini. Begitu pula di filsafat, kita mampu menuliskan siapapun tokoh yang dikehendaki asalkan dia ada dan mungkin ada.Dengan adanya tokoh-tokoh tersebut kita diharapkan mampu menerjemahkan dan mendeskripsikan apa yang ada dan mungkin ada. Kembali lagi ke perenungan dan pemetikan hikmah dari cerita dan peristiwa yang ada. Oleh karenanya wayang seringkali digunakan untuk membelajarkan masyarakat tentang nilai-nilai baik dan norma-norma luhur.

Terlepas dari pandangan sebagian orang yang menganggap bahwa wayang adalah syirik, atau bid’ah atau apapun itu yang dirasa bukan merupakan ajaran agama, saya merasa bahwa itu adalah hak individu masing-masing. Perbedaan pendapat tersebut dikarenakan perbedaan sudut pandang dalam melihat wayang dan juga didasari oleh pemahaman masing-masing individu akan agama yang dianutnya. Saya tidak terlalu mempermasalahkan itu. Saya tetap merasa bahwa wayang adalah sebuah kesenian yang luar biasa. Hasil karya cipta rasa dan karsa yang tinggi dari para pendahulu kita. Wayang bukan hanya sekedar puppet atau boneka biasa yang dipertunjukkan. Nilainya terletak kepada kemampuannya untuk memberikan hikmah dan kebaikan di balik peristiwa. Kemampuannya yang fleksibel untuk menceritakan berbagai peristiwa di kehidupan nyata yang dituangkan dengan kehidupan di dunia pewayangan membuatnya menjadi sarana yang menarik untuk refleksi diri, refleksi kehidupan kita. Refleksi kehidupan manusia yang dipresentasikan melalui sebuah pertunjukkan bayangan yang indah dan hidup. Yang dimaksudkan agar segenap manusia mampu menarik hikmah dan kesimpulan di baliknya.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Bagaimana bila wayang disalahgunakan untuk menyampaikan nilai-nilai keburukan, dapatkah hal seperti itu terjadi?
2.      Dalam filsafat, tokoh yang dimunculkan adalah tokoh yang ada dan mungkin ada menurut pemahaman kita akan dunia, dapatkah orang lain memahami tokoh-tokoh yang kita ciptakan itu sebagaimana kita memahami tokoh rekaan kita sendiri? Atau kita biarkan masing-masing orang memahaminya sendiri-sendiri sesuai pemahaman mereka masing-masing?


Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 31 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA

Selasa, 30 Oktober 2012

Down

Apa yang sudah aku lakukan selama ini ?

_sekedar coretan emosi

Rabu, 10 Oktober 2012

REFLEKSIKAN HIDUPMU


Berfilsafat adalah refleksi. Refleksi akan pengalamanmu, refleksi akan ilmumu, refleksi akan kehidupanmu dan kehidupan di sekitarmu. Maka itulah yang disebut olah fikir dan itulah yang dirasakan kurang dimiliki oleh orang-orang sekarang ini. Mereka berjalan dalam arus manusia yang deras, berpacu dengan waktu dan kesibukan namun rata-rata dari mereka tidak berfikir. Tidak ada yang mau berhenti dan merefleksikan hidup. Ini yang berbahaya. Merasa bisa dan mengerti tentang hakikat dunia hanya berdasarkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki sekarang.

Pada pertemuan kedua perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika bersama Dr. Marsigit, MA  setelah minggu sebelumnya sempat rehat sejenak akibat kesibukan Bapak Marsigit di luar kota, kami diminta untuk menyerahkan hasil refleksi kami terhadap perkuliahan minggu sebelumnya. Hasil refleksi tersebut yang diketik dan dikumpulkan secara hardcopy diharuskan disertai oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari perkuliahan sebelumnya. Saya mendapat kehormatan untuk menjadi orang pertama yang pertanyaan-pertanyaannya dijawab secara langsung oleh Dr. Marsigit.

Pertanyaan pertama saya adalah Apakah filsafat harus membuat orang lain tidak jelas? Hal ini merupakan kegelisahan saya terhadap pertemuan sebelumnya dimana Bapak Marsigit sempat menjelaskan bahwa filsafat membahas hal yang jelas menjadi tidak jelas. Namun kegundahan saya beliau jawab dengan halus bahwa keberhasilan filsafat adalah ketika ia dapat membuat orang lain menjadi sangat jelas, terang-benderang. Tantangan orang berfilsafat ialah bagaimana membuat orang lain menjadi jelas. Dan ini merupakan sebuah hubungan timbal balik, bila orang lain tersebut masih bingung maka mungkin terdapat masalah di filsafatnya atau orang tersebut yang masih harus belajar lebih.

Pertanyaan kedua saya ialah Bagaimana bila kami ingin berfilsafat dan mengutarakan apa yang ada di fikiran kami kepada orang lain secara jelas? Dapatkah disebut sebagai filsafat? Mengenai hal ini beliau secara gamblang menjelaskan bahwa persoalan filsafat ada 2:
1.      Jika apa yang sedang engkau fikirkan ada di luar fikiranmu, bagaimana caramu mengetahuinya?
2.      Jika apa yang sedang engkau fikirkan berada di dalam fikiranmu, bagaimana orang lain dapat mengetahuinya?
Maka sebenar-benar orang adalah mereka yang tidak mampu untuk mengetahui segalanya dan sebodoh-bodoh orang adalah mereka yang merasa bisa mengetahuinya. Dengan jelas, beliau mencontohkan bahwa beliau pun masih belum mampu untuk mengungkapkan dan menjelaskan rasa cintanya terhadap istri beliau. Meskipun dituliskan buku setebal 2 meter pun masih belum akan mampu menjelaskan cintanya selama ini. Hal ini dikarenakan buku tersebut mungkin mampu menjelaskan cintanya hari ini dan yang telah lalu, namun bagaimana bila besok? 5 tahun lagi? 10, 20, 100 tahun lagi? Sejujurnya manusia tidak akan mampu menjelaskan itu semua. Maka Si Maha Menjelaskan adalah Tuhan, Dia yang mampu menjelaskan secara tuntas beserta contoh-contohnya secara blak-blakan. Hanya saja manusia tidak mampu memahaminya dan tidak mau berfikir.

Pertanyaan saya yang ketiga ialah Dalam kondisi apakah kami disebut layak dikatakan untuk memulai berfilsafat? Filsafat adalah olah fikir yang refleksif, itu jawab beliau. Beliau menambahkan bahwa tatanan hidup manusia dibagi dua, tatanan atas yakni logika dan alam fikiran sedangkan tatanan bawah adalah pengalaman. Sebagai seorang mahasiswa, saya dan kawan-kawan sudah berusia 20-21 tahun, kurang pengalaman apa? Dr. Marsigit sudah berusia 55 tahun, kurang pengalaman apa? Usia hanya beda sedikit, namun sesungguhnya tidaklah berbeda jauh dari segi hidup. Toh jika usia kita ditambah 100 atau 200 tahun lagi, apalah perbedaan 30 tahunan itu antara kami dan Pak Marsigit? Sama-sama sudah menjadi fosil. Jadi, manusia sudah cukup mampu dikatakan untuk berfilsafat. Manusia telah memiliki akal pikiran dan pengalaman, pertanyaannya adalah apakah manusia mampu merefleksikan hidupnya menggunakan akal dan pengalamannya. Kita mampu merefleksikan hidup dan kehidupan kita menggunakan akal dan pengalaman kita yang kita dapat selama kita hidup, itu sudah cukup untuk menjadikan kondisi kita layak berfilsafat.

Pertanyaan saya yang keempat ialah Bagaimana mengembalikan orisinalitas pikiran bila kita terlalu terpengaruh filsafat orang lain? Tentang hal ini Dr. Marsigit mengoreksi saya bahwa ketika belajar kita tidak boleh berburuk sangka. Pertanyaan saya mengindikasikan bahwa pemikiran orang lain menjadi buruk, padahal tidak semua pemikiran orang lain itu buruk. Tidak ada satupun pemikir filsafat di dunia ini yang tidak terpengaruh orang pemikiran orang lain. Hal ini ibarat kita berlayar ke tengah samudera, kita harus tahu sekelling kita, air di sekitar kita, keadaan angin, cuaca dan sebagainya. Kita hidup berfilsafat pasti dikelilingi oleh filsafat-filsafat orang lain, maka berinteraksilah. Terjemah dan saling menerjemahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai keseimbangan, keseimbangan berfikir, keseimbangan hidup. Mengembalikan orisinalitas maksudnya ialah mendapatkan pure reason dari kita berfilsafat. Dan itu hanya didaptkan ketika kita sedang dalam posisi seimbang, tidak dikejar-kejar penagih hutang, tidak dikejar-kejar permasalahan hidup yang lain.

Pertanyaan saya yang kelima, pertanyaan yang secara spontan saya tuliskan dan saya ajukan saat perkuliahan dengan saya tuliskan di bawah tulisan-tulisan saya sebelumnya ialah Apa sebenarnya yang coba diungkapkan oleh filsafat? Obyek filsafat adalah segala yang ada dan mungkin ada. Hidup ini setiap saat adalah mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Filsafat pun begitu, dari yang tidak sadar menjadi sadar.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya dari teman-teman saya – Rosalia, Wahyu, Istanto, dll- berkisar tentang hal yang serupa dengan pemikiran saya. Sebagai sama-sama beginner dalam dunia filsafat, kami sama-sama gundah tentang dunia yang tengah kami pijaki ini. Apakah filsafat harus membuat kita jadi bingung? Bagaimana agar cara kami tidak bingung? Pertanyaan-pertanyaan itu menurut saya adalah wajar ditanyakan bila kita baru memasuki dunia yang filsafat yang baru ini. Jawaban dari kebingungan kami ialah bahwa kami semestinya meletakkan do’a di setiap langkah filsafat kami. Berdo’a supaya diberikan ilmu dan kekuatan agar mampu memahami. Bila bingung masih berlanjut, maka berhentilah sejenak. Tidak usah berfikir. Tidur, tinggalkan. Mudah bukan?

Manusia sadar bahwa kita memiliki akal dan pengalaman. Beberapa sadar bahwa akal dan pengalaman tersebut terakumulasi setiap hari, setiap detik, setiap waktu. Sedikit sekali yang sadar bahwa kita yang sekarang adalah kita yang berbeda dari kita yang tadi, kemarin, 2 detik lalu. Dan hanya secuil sadar bahwa akal dan pengalaman itu semestinya digunakan untuk merefleksikan hidup. Merefleksikan melalui olah pikir. Olah pikir yang dijernihkan dan dibentengi dengan do’a. Do’a do’a do’a do’a do’a … do’a dst. Maka sesungguhnya merefleksikan hidup sama saja berikir tentang kebesaran Allah Yang Agung. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mampu menjadi seperti itu.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Bagaimana kita bisa mengetahui orang lain menjadi jelas dengan filsafat kita?
2.      Bagaimana kita menghindari debat kusir dengan orang lain padahal yang kita mau adalah berinteraksi untuk saling mendapatkan ilmu dalam berfilsafat?
3.      Apakah kita dapat menjelaskan filsafat kita kepada orang yang usianya di bawah kita dan mungkin tahapan berfikirnya tidak sama dengan kita?




Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 3 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA

Kamis, 27 September 2012

Berhenti Sejenak, Berfilsafat


Masing-masing dari kita adalah kereta yang sedang melaju kencang. Masing-masing dari kita adalah mobil yang sedang melesat. Masing-masing dari kita adalah desiran peluru yang berdesing dengan kecepatan ekstra cepat. Masing-masing dari kita melaju, melesat, berpacu dengan apa yang kita lakukan dan alami di hidup kita. Kita berpacu dengan segala bentuk tugas-tugas dan kewajiban yang harus kita selesaikan. Yang menjadi bagian dari hidup kita yang tidak bisa dipisahkan dengan diri kita.

Namun, bagaimana bila kereta yang sedang melaju kencang, mobil yang tengah melaju cepat tersebut diminta untuk berhenti sejenak dari kelajuannya yang tengah gencar-gencarnya? Ini adalah perumpaan seseorang yang tengah belajar untuk berfilsafat, mengenal dunia filsafat dan mengembangkan dunia filsafat miliknya. Seseorang diminta untuk berhenti sejenak dari arus kehidupannya yang tengah melaju deras dan berfikir sejenak untuk merefleksikan hidupnya, kehidupan sekitarnya, kehidupan yang ada dan mungkin ada.Kita diminta berhenti sejenak untuk berolah fikir. Olah fikir yang kita sebut sebagai filsafat.

Mendengar kata filsafat, tanggapan sebagian besar orang adalah mengernyitkan dahi, terbayang segala kerumitan dan ketidakjelasan, terbayang sosok berjanggut putih dan lebat. Intinya adalah filsafat bukanlah sebuah dunia yang menyenangkan. Hal itu pula yang saya rasakan ketika pertama kali mendengar penjelasan dari Dr. Marsigit sekilas tentang filsafat. Terlebih dengan penjelasan beliau bahwa jika matematika mempelajari hal yang tadinya abstrak menjadi jelas, maka filsafat mempelajari hal yang jelas menjadi tidak jelas. What? What is the meaning of this? Apakah itu berarti semakin saya mampu membuat pendengar saya tidak mengerti akan apa yang saya ucapkan maka saya dikatakan telah berhasil berfilsafat? Membingungkan. Tidak tergapai oleh akal pemikiran saya. Lantas apa gunanya?

Hal yang sama ternyata dialami bukan hanya oleh saya seorang, namun sebagian besar teman-teman di kelas pun merasakan hal yang sama. Bahkan kakak-kakak kelas kami yang di Pasca Sarjana sana pun merasakan hal demikian, Bapak Marsigit mempostingkan tersendiri tulisan refleksi mahasiswa Pascasarjana dan yang kemudian ditanggapi oleh beliau. Saya bertanya-tanya, mereka saja bingung, bagaimana saya? Dari mana kami harus mulai untuk berfilsafat?

Bapak Marsigit memberikan penjelasan yang cukup menyenangkan hati dengan menjelaskan bahwa filsafat adalah dunia di alam pikiran pribadi masing-masing. Sifatnya adalah hidup, merdeka, bebas. Tanggapan seseorang akan sebuah hal yang sama bisa jadi berbeda, tergantung dimensi pemikiran masing-masing. Saya mendapatkan pencerahan bahwa mempelajari filsafat, belajar untuk berfilsafat pun butuh modal dan bekal, laiknya sebuah perjalanan pasti membutuhkan berbagai perlengkapan dan kesiapan. Kita jangan hanya bermodalkan sel abu-abu di otak kita ini untuk berfilsafat. Bapak Marsigit menjelaskan kepada kami bahwa kami senantiasa untuk membaca dan mengomentari elegi-elegi di blog beliau. Pada awalnya saya bingung, untuk apa? Namun setelah membaca dan berusaha mendapatkan intisari tulisan beliau dan mengomentari tulisan beliau, saya mendapatkan pemahaman : Ooh, jadi ini yang namanya berfilsafat..

Berfilsafat adalah refleksi dan perenungan akan kehidupan. Baik kehidupan yang ada di hadapan kita ini maupun kehidupan yang mungkin ada, yang tersembunyi di celah-celah pikiran kita maupun yang berada di luar jangkauan kita. Bahasa yang digunakan adalah bahasa analog, artinya tidak serta merta mengungkapkan maksud dan tujuannya secara gamblang namun melalui perumpamaan-perumpamaan yang dipahami bersama. Metodenya ialah hermeneutika, yakni menyampaikan pesan dari pembicara kepada pendengar.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana jika filsafat, dengan segala kebebasannya meluap-luap untuk menjamah sudut-sudut alam pemikiran manusia mampu menyesatkan manusia. Ini yang ditakutkan oleh sebagian besar pemula dalam berfilsafat, termasuk saya. Menanggapi hal ini, Dr. Marsigit memberikan bekal kepada kami untuk melawan kesesatan itu sedini mungkin. Apabila engkau berfilsafat sekali, maka berdo’alah sepuluh kali. Apabila filsafatmu melangkah satu langkah maka berdo’alah sepuluh langkah. Pada intinya, meski kita sanggup untuk berikhtiar untuk berfilsafat semampu dan seanggun yang kita mampu utarakan, kita harus menempatkan hati nurani kita sebagai panglima dan jenderal untuk mengontrolnya. Hati nurani adalah perantara manusia untuk mengingat Tuhannya. Dengan kata lain, apabila ikhtiar filsafatmu sudah engkau lakukan, memohonlah kepada Tuhanmu untuk dilindungi dan diselamatkan dari godaan Syetan yang terkutuk.

Setan mampu membelokkan pemahamanmu akan sesuatu menjadi tidak benar. Setan mampu merayumu dengan segala muslihatnya untuk menggoyahkan iman dan kepercayaanmu akan sesuatu yang hakiki dan benar. Ini yang harus diwaspadai oleh kita semua, orang-orang yang hendak berfilsafat, jangan sekali-sekali menggoyahkan iman kita melalui filsafat. Karena iman bukanlah job field dari pikiran, tapi hati. Oleh karena itu, pemahaman akan Tuhan, agama dan kepercayaan tidak akan sampai dimengerti oleh mereka yang hanya mengandalkan pikiran untuk memahami Tuhan. Sebagaimana yang diceritakan oleh Dr. Marsigit bahwa beliau memiliki seorang rekan bernama Prof Don Faust, seorang ahli matematika (saya pernah mengikuti kuliah umum Prof Don ini dan beliau memang seorang yang gemilang dalam matematika) yang sempat bertanya kepada Dr Marsigit (dengan sedikit improvisasi dari saya),
Prof. Don         : “Hey Marsigit, ane bingung nih. Boleh nanya kaga?”
Dr. Marsigit    : “Monggo Pak, pripun?”
Prof. Don         : “ Ane bingung nih. Apa sih hubungannya antara berdo’a dengan matematika ?  Ente selalu membuka dan menutup perkuliahan ente dengan berdo’a. Emang maknanye ape?”
Dr. Marsigit    : “Professor, jenengan percaya dengan Tuhan mboten?”
Prof. Don         : “Enggak, ane ga paham sama konsep Tuhan.”

Hal demikian yang harus diwaspadai oleh para beginner dalam berfilsafat. Tempatkan hati dan pikiran dalam posisinya yang benar. Jangan mengusik hati dengan pikiran-pikiranmu apabila engkau tidak ingin mendapatkan dirimu sebagai orang yang kontradiktif dan munafik. Dan jangan biarkan pikiranmu melantur terlalu jauh, tempatkan hati sebagai pengingat dan berdo’alah, mohonlah kepada Tuhanmu untuk selalu diberikan bimbingan dan perlindungan.

Dan pada akhirnya kereta-kereta tersebut pun harus melanjutkan perjalanan dengan melaju ekstra cepat. Berpacu untuk sampai di tempat tujuan dengan selamat sentosa. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kereta-kereta tersebut – tua muda, kondisi baik rusak, halus bobrok- tetap diingatkan untuk berhenti sejenak. Berhenti untuk memikirkan perjalanannya di dunia ini. Berhenti untuk memikirkan dunianya, sekitarnya dan apa yang mungkin ada di dunianya. Berhenti untuk merefeksikan apa yang telah Tuhan berikan kepadanya di setiap detik dan nafasnya di perjalanan yang teramat singkat ini.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1.      Apakah filsafat harus membuat orang lain tidak jelas?
2.      Bagaimana bila kami ingin berfilsafat dan mengutarakan apa yang ada di fikiran kami kepada orang lain secara jelas? Dapatkah disebut sebagai filsafat?
3.      Dalam kondisi apakah kami disebut layak dikatakan untuk memulai berfilsafat?
4.      Bagaimana mengembalikan orisinalitas pikiran bila kita terlalu terpengaruh filsafat orang lain?

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009
Rabu, 19 September 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA

Kamis, 20 September 2012

Tim KKN-PPL UNY 2012 SMAN 1 Kasihan

Assalamu'alaikum wr wb

Well, it;s my first time to write on my blog. Kayaknya sih kalo blog ini dimisalkan sebagai rumah/kamar/ruangan, dia pasti udah penuh sama sarang laba-laba, debu, kecoa, dsbg. Untungnya ga kayak gitu, repot ngebersihinnnya.hehe

Sekarang gue lagi gak mau curcol tentang "pengkhianatan" gue sama blog gue ini, lain kali aja dah..hehe yang mau gue ceritain adalah bahwa gue telah mengalami kenangan yang tak terlupakan bersama teman-teman KKN-PPL UNY 2012 di SMA N 1 Kasihan. Masa KKN-PPL gue cuma 3 bulan, terhitung dr 2 Juli-17 September kemaren tp macem-macem rasa telah hadir di masa sesingkat itu.

Kalo cerita kejadian sehari-hari tentunya ga bakal muat en gue bakal pegel, so I wanna introduce to y'all about my team where I become this group's leader. Keputusan yang gue tau bakal mereka sesali di kemudian hari pas cerita ke anak cucunya.
"Mbah, ceritain dong pas masa KKN dulu"
"Kan mbah udah cerita sama kamu dulu-dulu"
"Iya, tapi mbah belum cerita tentang ketua kelompoknya. Orangnya kaya apa sih mbah?"
"Dia cowok."
"Whoaa, ganteng ga mbah?"
"Cucuku tersayang, lebih baik kamu tidak mengetahui kenyataan tentang orang itu. Dia lebih berbahaya dibandingkan Voldemort dan Madara Uchiha dijadiin satu. Jangan sia-siakan hidupmu nak."
...
"Voldemort sama Madara Uchiha siapa mbah?"

Kira-kira gitu deh, bisa-bisanya gue dipilih en bisa-bisanya gue mau. Tapi semua udah terjadi, en gue ga pernah menyesali hal ini. Coz it was amazing! You only get this KKN-PPL period once in your time and you were a team's leader? *membusungkan dada . Hahaha.

This is the team:


atas ki-ka: Teguh, Eko, Gue (yeah, I know that's disgusting), Faqih, Melita, Keke, Sofiyah
bawah ki-ka : Mega, Rosa, Endah, Dewi, Amallia, Yunita, Widya, Vita

sebenarnya pengen gue ceritain tentang temen-temen KKN-PPL gue ini orang-orangnya kaya apa. Tapi berhubung perut gue udah protes minta diisi, lain kali aja deh gue ceritain orang-orangnya kaya apa.

Gue dengerin cerita temen-temen yg lain tentang kelompoknya kaya apa, gimana serunya mereka, gimana kompaknya mereka, gimana hebohnya acara yg mereka bikin, gimana asiknya kelompok mereka. Well, gue cuma bales nyengir.

I don't really care if they think that kelompok gue ga seheboh yg lain, ga sekompak yg lain, ga seasik yg lain dengan berbagai acara en kegiatan mereka, well I can say that every group has it's own story.

My group story is amazing..
My KKN-PPL group is the best .. although there's no award for that
And still unforgettable..