Selamat pagi kawan-kawan semua.
Setelah sekian lama ga apdet en ga buka-buka internet (apalagi buka blog, socmed aja jarang), akhirnya ane berkesempatan bisa nulis lagi di blog ini.
Jadi ceritanya sekarag gw udah lulus kuliah S1 dalam waktu yg normal alhamdulillah yakni 4 tahun masa studi. Dan syukur alhamdulillah ga lama gw menganggur gw langsung dapet pekerjaan. Jadi saat ini gw statusnya adalah staf pengajar matematika di Ganesha Operation Cabang Tangerang.
Tentang kerjaan, well.. kalo mau jujur, gw lebih milih kerja di sini dibandingkan di sekolah-sekolah negeri atau swasta. Dilihat dari beban kerja, gw cuma kerja ngajar rata-rata selama 2 x 90menit perhari atau 2 sesi mengajar. Sisanya gw kudu standby ada di kantor buat memenuhi jam kerja 8 jam sehari, itupun karena gw udah jd pengajar kontrak, kalo pengajar freelance ga ada kewajiban kaya gitu. Dateng pas mau ngajar, trus mau pulang ya udah..
Belum lagi dengan ketiadaan kewajiban kudu bikin en ngurus administrasi buat ngajar seperti RPP, prosem, ngoreksi kerjaan siswa dan laen sbagainya. Singkat cerita, bekerja di sini menurut gw itu asik en nyante banget..dibandingin di sekolah.
Masalah gaji, jangan ditanya. Jumlahnya juauhh melebihi honor pengajar honorer di sekolah. Jadi, buat bujangan ting-ting kaya gw, upah kerja di sini bener-bener lebih dari cukup. Sekarang aja gw udah naik 4 kilo, dibandingin pas jaman-jaman gw lagi nyusun skripsi kemaren. E buseet..
Tapi gw ga bermaksud buat jelek-jelekin temen-temen yg memilih untuk langsung bekerja/ngajar di sekolah. Itu pilihan masing-masing en rejeki udah diatur sama Allah, gw yakin itu. Yang jelas, buat temen-temen yang masih galau en bingung buat kerja apa en di mana, gw saranin buat langsung bertindak. Langsung bergerak. Jangan ampe ilmu yang udah kita dapet membeku en ga guna tiada hasil. Mau ngajar di sekolah, di lembaga bimbel kaya gw, or bahkan membelok dari ilmu yg dipelajarinya di kampus, It's Okay. Yang penting ayo kita berkarya! Ayo kita mengabdi dengan cara kita masing-masing. Jangan kita tambahin angka-angka pengangguran sarjana di negeri ini.Ayo kita jadikan diri kita berguna bagi orang lain, bagaimanapun langkah yang kita tempuh, yang penting halal..hehe
So, buat temen-temen semua, ayo semangat!
Sabtu, 14 Desember 2013
Rabu, 05 Desember 2012
BELAJAR DENGAN INTUISI
Berfilsafat
adalah olah pikir. Mengapa demikian? Karena dari sekian banyaknya yang ada dan
mungkin ada di dunia ini, tentu kita tidak mampu memikirkan semuanya. Waktu
kita bisa habis hanya untuk itu. Oleh karena itu, filsafat ada untuk membuat
kita mempelajari mana yang pantas untuk dipikirkan dan mana yang tidak pantas
untuk kita pikirkan. Untuk segala hal yang tidak kita pikirkan, dalam filsafat,
semua itu dibuang atau diletakkan di rumah “Ephoce” yakni sebuah tempat
imajiner dimana segala yang kita tidak pikirkan berada di sana.
Manusia hidup
tentu harus berpikir. Segala yang ia lakukan harus didasari oleh pemikiran yang
jernih. Namun, apakah harus selalu seperti itu? Apakah kita bisa melakukan
sesuatu yang jelas tanpa berpikir? Ya, bisa. Hal tersebut oleh Prof. Marsigit
dijelaskan sebagai mitos, yakni sesuatu hal yang sebenarnya tidak masuk akal
namun tetap dijalankan atau dilakukan oleh manusia tanpa dasar alasan yang
jelas atau logis. Dalam mitos, segala logika jadi layu di sana dan tidak
berpengaruh. Lantas apa yang menggerakkan manusia sehingga bisa melakukan hal
yang tidak logis seperti itu? Jawabannya yakni manusia menggunakan intuisinya.
Intuisi
adalah hal yang alami dimiliki manusia. Semua orang memilikinya. Tidak hanya
orang dewasa, sedari bayi pun kita telah memiliki intuisi tersebut. Bayi,
meskipun ia tidak mengetahui definisi tentang besar dan kecil, ia tetap mampu
membedakan mana objek yang besar dan mana yang kecil. Bayi, meskipun ia tidak diajarkan
pengertian cantik dan tampan, ia tetap mampu mengetahui mana yang cantik dan
mana yang tampan. Dan dari situlah pada awalnya manusia belajar. Manusia
belajar pada awalnya dengan intuisi yang dibawa sejak lahir.
Dalam
tulisan-tulisan Prof. Marsigit yang lain dalam blog beliau
(powermathematics.blogspot.com), terdapat artikel dimana beliau mengkritik
metode pengajaran matematika saat ini yang berlangsung di Indonesia. Dikatakan
bahwa guru-guru melupakan aspek yang sangat penting yang ada di diri siswa
yakni bahwa setiap siswa memiliki
intuisi masing-masing. Memuntahkan segala ilmu yang dimiliki guru melalui
obrolan panjang satu arah di dalam kelas adalah hal yang menyakiti siswa.
Sebaiknya, guru mendisain sebuah kegiatan pembelajaran dimana siswa mampu aktif
dan menggunakan intuisinya dalam menemukan kesimpulan atau konsep dari materi
yang tengah diajarkan. Hal ini memang sulit, penulis pun mengakui hal itu
karena telah mengalaminya, namun harus dilakukan karena secara alami melalui
intuisi lah manusia belajar segala hal.
Sebagaimana
yang dikatakan Prof. Marsigit, segala hal yang ada dan mungkin ada di dunia ini
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagaikan dua sisi koin logam.
Mitos pun demikian, tidak selamanya ia buruk. Tidak selamanya informasi yang
diba’iat (diputuskan) sebagai mitos adalah hal yang jelek. Ia pun memiliki
kelebihannya sendiri. Apa kelebihannya? Bahwa manusia dapat belajar dari mitos
tersebut. Mari kita ambil contoh, mitos tentang Ratu Nyi Roro Kidul di laut selatan
pulau Jawa. Terdapat banyak hal yang
dilarang atau tidak dianjurkan untuk dilakukan di laut selatan seperti jangan
memakai baju hijau karena hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul, nanti
ditarik ke dalam laut. Jika nelayan hendak melaut pun mereka tidak main-main,
mereka meminta ‘izin’ dari Nyi Roro Kidul untuk melaut dan pulang dengan hasil
tangkapan yang tidak semena-mena.
Apa yang
dapat dipelajari dari mitos seperti itu? Pelajaran yang dapat diambil bahwa
orang-orang menjadi menghargai laut. Mereka tidak memandang rendah laut sebagai
kumpulan air semata, namun memperlakukannya seperti makhluk hidup lainnya yakni
berlaku menghormati dan santun kepadanya. Kelestarian dan keindahan laut
selatan pun terjaga dari keusilan manusia yang hendak mengotorinya. Ya,
mitos-mitos semacam itulah yang membuat manusia urung mengotori laut. Dan masih
banyak lagi mitos-mitos yang ada dan tersebar di berbagai tempat di Indonesia.
Segalanya jika kita lihat dari sisi lain, tentu mengandung kebaikan yang
membuat manusia belajar. Belajar menggunakan intuisi, intuisi alami yang
dimiliki manusia sejak lahir.
Pertanyaan untuk Prof. Dr. Marsigit:
Dapatkah kita mengajarkan matematika
melalui mitos untuk membuat siswa belajar menggunakan intuisinya Pak?
Bagaimanakah contohnya? Trims
Refleksi Perkuliahan Filsafat
Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009Rabu, 28 November 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, MA
Rabu, 21 November 2012
Tersesat di Ruang dan Waktu
Tiada maksud apa-apa
untuk menyampaikan judul yang cukup nyeleneh.
Ini hanya merupakan hasil refleksi dari perkuliahan Filasafat Pendidikan
Matematika dengan Prof. Dr. Marsigit (Selamat kepada Bapak Marsigit yang telah
memperoleh gelar Professor tersebut, sungguh membanggakan) waktu yang lalu. Pada
perkuliahan tersebut beliau menyampaikan tentang bagaimana menembus ruang dan
waktu. Semua yang ada di alam ini senantiasa menembus ruang dan waktu. Mulai
dari manusia yang berfilsafat, manusia awam yang tidak berfilsafat, anak-anak,
binatang, maupun tumbuhan, bahkan batu (oh ya, batu bung!) pun menembus ruang
dan waktu. Jangankan apa yang dipikirkan, apa yang tidak dipikirkan pun
menembus ruang dan waktu. Semua itu terjadi tanpa kita sadari, berlangsung
dengan proses begitu saja. Itulah mengapa kita merasakan adanya masa lalu, masa
sekarang, dan masa depan.
Ada tiga bekal yang
dipertimbangkan untuk menembus ruang dan waktu yaitu:
1. Paham tentang ruang dan waktu.
Ruang itu ada dimensi 0, 1, 2, 3, dan seterusnya sampai tak
hingga. Kita memahami makna ruang dari aspek spiritualism. Para spiritualism
membagi empat ruang, yaitu materialism, formalism, normatifsism, dan
spiritualism. Segala sesuatu dapat menempati keempat ruang tersebut. Sedangkan
waktu, ada waktu berurutan, berkelanjutan, dan berkesatuan.
2. Memahami tentang adanya filsafat
fenomenologi.
Fenomenologi diperlukan untuk menyebut bermacam-macam ruang
dan waktu. Menurut Husserr, fenomenologi meliputi abstraksi dan idealisasi.
Sebenar-benar manusia adalah abstraksi, yaitu hidup dengan memilih. Kita
melihat hanya memilih yang depan saja, tidak bisa melihat belakang. Hanya
memilih satu titik saja, tidak memilih ke banyak titik. Berbicara pun memilih,
tidak bisa sekaligus. Inilah yang disebut dengan prinsip reduksi. Berpikirpun
juga dengan abstraksi, hanya memilih satu hal. Hal-hal yang tidak kita
pikirkan, kita buang/letakkan di rumah ephoce.
3. Memahami tentang filsafat
foundasionalism dan antitesisnya.
Fundasionalism berangkat dari definisi, aksioma, teorema,
dan seterusnya. Kaum fundasionalism tahu dan selalu memikirkan kapan mulainya
sesuatu. Tetapi, apa yang terjadi pada diri kita, sebagian besar tidak
diketahui kapan mulainya. Itulah antitesis dari fundasionalism, yaitu intuisionalism.
Banyak hal-hal yang bisa kita ketahui tanpa harus tahu definisinya. Contohnya,
kita tidak tahu kapan kita bisa membedakan antara besar dan kecil. Manusia
merupakan kaum fundasionalism sekaligus intuisionalism, maka disebut
kontradiksi.
Terkadang banyak
manusia yang tidak memahami bekal untuk menembus ruang dan waktu tersebut,
sepertinya kebanyakan manusia bahkan tidak mengetahui hal-hal tersebut. Inilah
keadaan yang saya pertanyakan sebagai keadaan tersesat di ruang dan waktu. Kita
lihat di sekeliling kita banyak orang yang merasa dirinya hanya eksis di suatu
masa saja, masa muda misalkan. Tidak menyadari bahwa fisik dan usia pun
melewati ruang dan waktu atau dengan kata lain bahwa mereka tentu akan
merasakan tua juga, dengan segala konsekuensinya. Kondisi dimana manusia tidak
menyadari hakekat ruang dan waktu yang berlangsung di dirinya dan sekitarnya
yang saya sebut sebagai tersesat di ruang dan waktu. Efek lainnya ialah
kegilaan yang muncul akibat tidak bisa menafsirkan dimana ruang dan waktu ia
berada sekarang, Bahkan ketika kita diam pun, ruang dan waktu terus berjalan
dan berputar.
Dalam menyikapi hal
tersebut, sebaiknya kita bisa mengatur waktu kita agar bisa efektif dan
efisien. Menyadari hakikat adanya ruang dan waktu kemudian memanfaatkan
sebaik-baik waktu dan ruang yang diberikan Allah kepada kita dengan
sebaik-baiknya. Hal lain yang didapatkan adalah kita memikirkan sesuatu satu
per satu, tidak sekaligus. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat mengerjakan
sesuatu dengan fokus. Meninggalkan hal-hal yang tidak semestinya dipikirkan. Dengan
begini, kita dapat meninggalkan keadaan ‘tersesat’ dan kembali ke jalan yang
benar.
Pertanyaan untuk Prof. Dr. Marsigit:
Dapatkah manusia lepas dari keadaan
tersesat dalam ruang dan waktu? Apa senjatanya Pak? Trims
Refleksi Perkuliahan Filsafat
Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009Rabu, 7 November 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, MA
Rabu, 07 November 2012
Superman, other side
Jadi, ceritanya sekarang gue lagi seneng banget sama lagu yang dinyanyiin Five For Fighting terus dinyanyiin ulang (cover) sama Boyce Avenue yang judulnya Superman. Selain musikalitasnya yang aduhai #ceilaa, gue juga seneng liriknya. Ternyata liriknya dalem banget...
Berdasarkan pemahaman gue dari lagu ini, liriknya menceritakan tentang sisi lain dari Superman. Orang-orang kan cuma ngeliatnya dari satu sisi tuh, cuma sebagai pahlawan, ga mempan ditembak apalagi ditabok. Dilihat sebagai simbol atau bahkan alat dimana dia dibutuhin banget pas ada kejahatan. Tapi, ada ga sih yang coba memandangnya sebagai manusia? Sebagai 'seseorang'?
Buat yang mau ngeliatnya sebagai manusia, pasti bingung. Masalahnya dia ini manusia apa bukan? Jelas-jelas dia ini dari planet lain. Ga ada lah manusia yang sekuat dia, otot kawat tulang besi lah ceritanya. Nah, kebayang ga misalkan bener-bener ada Superman di dunia kita, perasaannya kaya apa? Dari sisi fisiologis en biologis dia manusia, tapi dari sisi kemampuan en silsilah jelas dia bukan manusia. Can you feel how absurd your heart can be in a situation where you are not fully belong in one side?
Lagu ini nyeritain bahwa Superman yang diceritain lagi gundah hatinya. Dia juga mau ngerasain perasaan manusia. "Even Heroes have the right to bleed" atau "Even Heroes have the right to dream" adalah beberapa penggalan lirik lagu tu. Well, its true! Mereka juga boleh terluka, boleh juga bermimpi, layaknya manusia-manusia yang dilindunginya.
Di kehidupan nyata kita juga menemui banyak "Superman-Superman" yang punya peranan penting di berbagai sektor dan bidang di kehidupan. Tapi, pernahkah kita memandang mereka dari sisi kemanusiaan mereka? Bahwa mereka juga punya hati dan perasaan, mereka juga berhak mendapatkan privasi, keamanan, kenyamanan, layaknya kita yang mereka lindungi. Bentuk mereka bisa macam-macam, dari yang berpenampilan menarik hingga berpenampilan lusuh. Jangan salah artikan Superman di sini adalah mereka yang menghuni kursi empuk dan ruangan nyaman di Senayan sana, salah besar. Superman di sini adalah mereka yang mau-maunya berkorban untuk orang lain, ga peduli seberapa sibuk mereka atau bahkan mereka ga dibayar untuk bekerja kepada kemaslahatan umat banyak. Ada aja kan orang-orang Super kaya gitu?
Well, mari kita berusaha memandang sesuatu tidak hanya dari satu sisi..Layaknya koin yang bersisian di dua sisi, bahkan bila sisi lainnya adalah keburukan, tetap kita harus memperhatikannya. Karena itulah hidup. Kamu ga bisa memilih mau hidup di dunia yang isinya baik-baik aja. Hidup adalah perpaduan baik dan buruk. Oleh karena itu, mari belajar supaya tidak berat sebelah. Jika Superman juga dianggap bahwa ia juga memiliki hati yang sama seperti kita, dia juga mungkin tidak perlu menyembunyikan identitasnya di balik kacamata dan rambutnya culunnya itu.
Berdasarkan pemahaman gue dari lagu ini, liriknya menceritakan tentang sisi lain dari Superman. Orang-orang kan cuma ngeliatnya dari satu sisi tuh, cuma sebagai pahlawan, ga mempan ditembak apalagi ditabok. Dilihat sebagai simbol atau bahkan alat dimana dia dibutuhin banget pas ada kejahatan. Tapi, ada ga sih yang coba memandangnya sebagai manusia? Sebagai 'seseorang'?
Buat yang mau ngeliatnya sebagai manusia, pasti bingung. Masalahnya dia ini manusia apa bukan? Jelas-jelas dia ini dari planet lain. Ga ada lah manusia yang sekuat dia, otot kawat tulang besi lah ceritanya. Nah, kebayang ga misalkan bener-bener ada Superman di dunia kita, perasaannya kaya apa? Dari sisi fisiologis en biologis dia manusia, tapi dari sisi kemampuan en silsilah jelas dia bukan manusia. Can you feel how absurd your heart can be in a situation where you are not fully belong in one side?
Lagu ini nyeritain bahwa Superman yang diceritain lagi gundah hatinya. Dia juga mau ngerasain perasaan manusia. "Even Heroes have the right to bleed" atau "Even Heroes have the right to dream" adalah beberapa penggalan lirik lagu tu. Well, its true! Mereka juga boleh terluka, boleh juga bermimpi, layaknya manusia-manusia yang dilindunginya.
Di kehidupan nyata kita juga menemui banyak "Superman-Superman" yang punya peranan penting di berbagai sektor dan bidang di kehidupan. Tapi, pernahkah kita memandang mereka dari sisi kemanusiaan mereka? Bahwa mereka juga punya hati dan perasaan, mereka juga berhak mendapatkan privasi, keamanan, kenyamanan, layaknya kita yang mereka lindungi. Bentuk mereka bisa macam-macam, dari yang berpenampilan menarik hingga berpenampilan lusuh. Jangan salah artikan Superman di sini adalah mereka yang menghuni kursi empuk dan ruangan nyaman di Senayan sana, salah besar. Superman di sini adalah mereka yang mau-maunya berkorban untuk orang lain, ga peduli seberapa sibuk mereka atau bahkan mereka ga dibayar untuk bekerja kepada kemaslahatan umat banyak. Ada aja kan orang-orang Super kaya gitu?
Well, mari kita berusaha memandang sesuatu tidak hanya dari satu sisi..Layaknya koin yang bersisian di dua sisi, bahkan bila sisi lainnya adalah keburukan, tetap kita harus memperhatikannya. Karena itulah hidup. Kamu ga bisa memilih mau hidup di dunia yang isinya baik-baik aja. Hidup adalah perpaduan baik dan buruk. Oleh karena itu, mari belajar supaya tidak berat sebelah. Jika Superman juga dianggap bahwa ia juga memiliki hati yang sama seperti kita, dia juga mungkin tidak perlu menyembunyikan identitasnya di balik kacamata dan rambutnya culunnya itu.
MENEMUKAN HIKMAH DI BALIK BAYANGAN
Pada perkuliahan filsafat pendidikan matematika yang
lalu, saya menanyakan kepada Bapak Marsigit terkait filsafat di balik wayang.
Hal ini dikarenakan saya tertarik dengan tulisan beliau di blog beliau yang
diberi judul elegi wayang golek. Saya bertanya, apakah makna secara filsafat di
balik wayang-wayang lain selain wayang golek?Wayang kulit, wayang wong
misalkan. Saya penasaran dengan makna wayang tersebut diciptakan.
Perkenalan saya dengan wayang adalah melalui orang tua
saya, khususnya bapak saya. Jaman ketika saya masih kecil, di TVRI sering
ditayangkan wayang pada larut malam. Terkadang, ketika saya terbangun ingin
buang air kecil saya sering mendapati bapak saya sedang asyik menonton tontonan
tersebut. Saya yang sedari kecil memang tidak bisa bahasa Jawa, apalagi bahasa
Jawa yang digunakan dalam pewayangan, tentu hanya bisa bingung melihat tontonan
itu. Tapi saya tertarik dengan permainan ‘mainan’ yang digerakkan tersebut. Kadang
terlihat seorang tokoh sedang menasihati tokoh lain, ada yang terlihat sedang
bertengkar dan ada yang digerakkan sedemikian rupa sehingga kedua tokoh sedang
terlibat perkelahian. Terlebih ketika yang ditayangkan adalah bayangannya di
balik kain putih besar, seolah-olah hidup! Ya! Mereka hidup dengan segala
gerakannya. Sungguh luar biasa.
Beranjak dewasa, saya makin memahami bahwa wayang
adalah hasil kreatifitas tinggi yang memadukan unsur kesenian Hindu dengan
nilai-nilai ajaran Islam yang dibawakan oleh Wali Songo. Wayang dibuat
sedemikian rupa agar tidak semirip orang aslinya namun tetap mempresentasikan
manusia. Jika kita memperhatikan, jelas sekali terlihat bahwa dunia pewayangan
dibagi dua, ada tokoh-tokoh yang baik dan biasanya digambarkan dengan wajah yang
rupawan, mirip manusia utuh, dengan mata sayu yang terlihat mereka sering
bertapa dan ikhlas akan keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada pula
tokoh-tokoh yang tidak baik yang digambarkan dengan perut buncit, mata lebar,
mulut menganga. Ini menggambarkan bahwa kehidupan di dunia merupakan pergulatan
antar baik dan buruk, dan akan berlangsung selamanya. Hasil kreatifitas para
Wali Songo adalah memasukkan nilai-nilai Islam pada kesenian yang digemari
sejak jaman Hindu dahulu kala sehingga di masa kini masih terdapat
istilah-istilah Islam yang digunakan seperti Jamus Kalimosodo (Kalimo=5 rukun
Islam, sodo=Syahadat) dan sebagainya.
Menurut penjelasan dari Bapak Marsigit, wayang berasal
dari kata bayangan. Bayangan memiliki makna bahwa ia tersembunyi di balik
objek. Hal ini berarti setiap pementasan wayang pasti mengungkapkan sebuah
makna dan hikmah di balik cerita yang ditampilkan. Hal ini menggambarkan bahwa
di kehidupan manusia, manusia pun dituntut untuk selalu mempu menemukan hikmah
di balik segala peristiwa yang ada. Memahaminya dan kemudian mampu bersyukur
kepada Tuhan atas segala kenikmatan yang diterimanya dan memohon ampun kepada
Tuhan atas segala kesalahan yang dibuatnya.
Tokoh-tokoh di pewayangan bermacam-macam, tokoh-tokoh
tersebut adalah kreasi dari tokoh-tokoh yang ada dan mungkin ada di dunia ini.
Begitu pula di filsafat, kita mampu menuliskan siapapun tokoh yang dikehendaki
asalkan dia ada dan mungkin ada.Dengan adanya tokoh-tokoh tersebut kita
diharapkan mampu menerjemahkan dan mendeskripsikan apa yang ada dan mungkin
ada. Kembali lagi ke perenungan dan pemetikan hikmah dari cerita dan peristiwa
yang ada. Oleh karenanya wayang seringkali digunakan untuk membelajarkan
masyarakat tentang nilai-nilai baik dan norma-norma luhur.
Terlepas dari pandangan sebagian orang yang menganggap
bahwa wayang adalah syirik, atau bid’ah atau apapun itu yang dirasa bukan
merupakan ajaran agama, saya merasa bahwa itu adalah hak individu
masing-masing. Perbedaan pendapat tersebut dikarenakan perbedaan sudut pandang
dalam melihat wayang dan juga didasari oleh pemahaman masing-masing individu
akan agama yang dianutnya. Saya tidak terlalu mempermasalahkan itu. Saya tetap
merasa bahwa wayang adalah sebuah kesenian yang luar biasa. Hasil karya cipta
rasa dan karsa yang tinggi dari para pendahulu kita. Wayang bukan hanya sekedar
puppet atau boneka biasa yang
dipertunjukkan. Nilainya terletak kepada kemampuannya untuk memberikan hikmah
dan kebaikan di balik peristiwa. Kemampuannya yang fleksibel untuk menceritakan
berbagai peristiwa di kehidupan nyata yang dituangkan dengan kehidupan di dunia
pewayangan membuatnya menjadi sarana yang menarik untuk refleksi diri, refleksi
kehidupan kita. Refleksi kehidupan manusia yang dipresentasikan melalui sebuah
pertunjukkan bayangan yang indah dan hidup. Yang dimaksudkan agar segenap
manusia mampu menarik hikmah dan kesimpulan di baliknya.
Pertanyaan untuk Dr.
Marsigit:
1.
Bagaimana
bila wayang disalahgunakan untuk menyampaikan nilai-nilai keburukan, dapatkah
hal seperti itu terjadi?
2.
Dalam
filsafat, tokoh yang dimunculkan adalah tokoh yang ada dan mungkin ada menurut
pemahaman kita akan dunia, dapatkah orang lain memahami tokoh-tokoh yang kita
ciptakan itu sebagaimana kita memahami tokoh rekaan kita sendiri? Atau kita
biarkan masing-masing orang memahaminya sendiri-sendiri sesuai pemahaman mereka
masing-masing?
Refleksi Perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika
Pendidikan
Matematika Kelas Bilingual 2009Rabu, 31 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA
Selasa, 30 Oktober 2012
Rabu, 10 Oktober 2012
REFLEKSIKAN HIDUPMU
Berfilsafat adalah refleksi. Refleksi
akan pengalamanmu, refleksi akan ilmumu, refleksi akan kehidupanmu dan
kehidupan di sekitarmu. Maka itulah yang disebut olah fikir dan itulah yang
dirasakan kurang dimiliki oleh orang-orang sekarang ini. Mereka berjalan dalam
arus manusia yang deras, berpacu dengan waktu dan kesibukan namun rata-rata
dari mereka tidak berfikir. Tidak ada yang mau berhenti dan merefleksikan
hidup. Ini yang berbahaya. Merasa bisa dan mengerti tentang hakikat dunia hanya
berdasarkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki sekarang.
Pada pertemuan kedua perkuliahan
Filsafat Pendidikan Matematika bersama Dr. Marsigit, MA setelah minggu sebelumnya sempat rehat
sejenak akibat kesibukan Bapak Marsigit di luar kota, kami diminta untuk
menyerahkan hasil refleksi kami terhadap perkuliahan minggu sebelumnya. Hasil
refleksi tersebut yang diketik dan dikumpulkan secara hardcopy diharuskan disertai oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul
dari perkuliahan sebelumnya. Saya mendapat kehormatan untuk menjadi orang
pertama yang pertanyaan-pertanyaannya dijawab secara langsung oleh Dr.
Marsigit.
Pertanyaan pertama saya adalah Apakah filsafat harus membuat orang lain
tidak jelas? Hal ini merupakan kegelisahan saya terhadap pertemuan sebelumnya
dimana Bapak Marsigit sempat menjelaskan bahwa filsafat membahas hal yang jelas
menjadi tidak jelas. Namun kegundahan saya beliau jawab dengan halus bahwa keberhasilan filsafat adalah ketika ia dapat
membuat orang lain menjadi sangat jelas, terang-benderang. Tantangan orang
berfilsafat ialah bagaimana membuat orang lain menjadi jelas. Dan ini merupakan
sebuah hubungan timbal balik, bila orang lain tersebut masih bingung maka
mungkin terdapat masalah di filsafatnya atau orang tersebut yang masih harus
belajar lebih.
Pertanyaan kedua saya ialah Bagaimana bila kami ingin berfilsafat dan
mengutarakan apa yang ada di fikiran kami kepada orang lain secara jelas?
Dapatkah disebut sebagai filsafat? Mengenai hal ini beliau secara gamblang
menjelaskan bahwa persoalan filsafat ada 2:
1. Jika apa yang sedang engkau fikirkan
ada di
luar fikiranmu, bagaimana caramu mengetahuinya?
2. Jika apa yang sedang engkau fikirkan
berada di dalam fikiranmu, bagaimana orang lain dapat mengetahuinya?
Maka sebenar-benar orang adalah mereka
yang tidak mampu untuk mengetahui segalanya dan sebodoh-bodoh orang adalah
mereka yang merasa bisa mengetahuinya. Dengan jelas, beliau mencontohkan bahwa
beliau pun masih belum mampu untuk mengungkapkan dan menjelaskan rasa cintanya
terhadap istri beliau. Meskipun dituliskan buku setebal 2 meter pun masih belum
akan mampu menjelaskan cintanya selama ini. Hal ini dikarenakan buku tersebut
mungkin mampu menjelaskan cintanya hari ini dan yang telah lalu, namun
bagaimana bila besok? 5 tahun lagi? 10, 20, 100 tahun lagi? Sejujurnya manusia
tidak akan mampu menjelaskan itu semua. Maka Si Maha Menjelaskan adalah Tuhan,
Dia yang mampu menjelaskan secara tuntas beserta contoh-contohnya secara
blak-blakan. Hanya saja manusia tidak mampu memahaminya dan tidak mau berfikir.
Pertanyaan saya yang ketiga ialah Dalam kondisi apakah kami disebut layak
dikatakan untuk memulai berfilsafat? Filsafat adalah olah fikir yang
refleksif, itu jawab beliau. Beliau menambahkan bahwa tatanan hidup manusia
dibagi dua, tatanan atas yakni logika dan alam fikiran sedangkan tatanan bawah
adalah pengalaman. Sebagai seorang mahasiswa, saya dan kawan-kawan sudah
berusia 20-21 tahun, kurang pengalaman
apa? Dr. Marsigit sudah berusia 55 tahun, kurang pengalaman apa? Usia hanya beda sedikit, namun sesungguhnya
tidaklah berbeda jauh dari segi hidup. Toh jika usia kita ditambah 100 atau 200
tahun lagi, apalah perbedaan 30 tahunan itu antara kami dan Pak Marsigit?
Sama-sama sudah menjadi fosil. Jadi, manusia sudah cukup mampu dikatakan untuk
berfilsafat. Manusia telah memiliki akal pikiran dan pengalaman, pertanyaannya
adalah apakah manusia mampu merefleksikan hidupnya menggunakan akal dan
pengalamannya. Kita mampu merefleksikan hidup dan kehidupan kita menggunakan
akal dan pengalaman kita yang kita dapat selama kita hidup, itu sudah cukup
untuk menjadikan kondisi kita layak berfilsafat.
Pertanyaan saya yang keempat ialah Bagaimana mengembalikan orisinalitas pikiran
bila kita terlalu terpengaruh filsafat orang lain? Tentang hal ini Dr.
Marsigit mengoreksi saya bahwa ketika belajar kita tidak boleh berburuk sangka.
Pertanyaan saya mengindikasikan bahwa pemikiran orang lain menjadi buruk,
padahal tidak semua pemikiran orang lain itu buruk. Tidak ada satupun pemikir
filsafat di dunia ini yang tidak terpengaruh orang pemikiran orang lain. Hal
ini ibarat kita berlayar ke tengah samudera, kita harus tahu sekelling kita,
air di sekitar kita, keadaan angin, cuaca dan sebagainya. Kita hidup
berfilsafat pasti dikelilingi oleh filsafat-filsafat orang lain, maka
berinteraksilah. Terjemah dan saling menerjemahkan. Hal ini dimaksudkan untuk
mencapai keseimbangan, keseimbangan berfikir, keseimbangan hidup. Mengembalikan
orisinalitas maksudnya ialah mendapatkan pure
reason dari kita berfilsafat. Dan itu hanya didaptkan ketika kita sedang
dalam posisi seimbang, tidak dikejar-kejar penagih hutang, tidak dikejar-kejar
permasalahan hidup yang lain.
Pertanyaan saya yang kelima,
pertanyaan yang secara spontan saya tuliskan dan saya ajukan saat perkuliahan
dengan saya tuliskan di bawah tulisan-tulisan saya sebelumnya ialah Apa sebenarnya yang coba diungkapkan oleh
filsafat? Obyek filsafat adalah segala yang ada dan mungkin ada. Hidup ini
setiap saat adalah mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Filsafat pun begitu,
dari yang tidak sadar menjadi sadar.
Pertanyaan-pertanyaan berikutnya dari
teman-teman saya – Rosalia, Wahyu, Istanto, dll- berkisar tentang hal yang
serupa dengan pemikiran saya. Sebagai sama-sama beginner dalam dunia filsafat, kami sama-sama gundah tentang dunia
yang tengah kami pijaki ini. Apakah filsafat harus membuat kita jadi bingung?
Bagaimana agar cara kami tidak bingung? Pertanyaan-pertanyaan itu menurut saya
adalah wajar ditanyakan bila kita baru memasuki dunia yang filsafat yang baru
ini. Jawaban dari kebingungan kami ialah bahwa kami semestinya meletakkan do’a
di setiap langkah filsafat kami. Berdo’a supaya diberikan ilmu dan kekuatan
agar mampu memahami. Bila bingung masih berlanjut, maka berhentilah sejenak.
Tidak usah berfikir. Tidur, tinggalkan. Mudah bukan?
Manusia sadar bahwa kita memiliki
akal dan pengalaman. Beberapa sadar bahwa akal dan pengalaman tersebut
terakumulasi setiap hari, setiap detik, setiap waktu. Sedikit sekali yang sadar
bahwa kita yang sekarang adalah kita yang berbeda dari kita yang tadi, kemarin,
2 detik lalu. Dan hanya secuil sadar bahwa akal dan pengalaman itu semestinya
digunakan untuk merefleksikan hidup. Merefleksikan melalui olah pikir. Olah
pikir yang dijernihkan dan dibentengi dengan do’a. Do’a do’a do’a do’a do’a … do’a
dst. Maka sesungguhnya merefleksikan hidup sama saja berikir tentang kebesaran
Allah Yang Agung. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mampu menjadi
seperti itu.
Pertanyaan untuk Dr. Marsigit:
1. Bagaimana kita bisa mengetahui orang
lain menjadi jelas dengan filsafat kita?
2. Bagaimana kita menghindari debat
kusir dengan orang lain padahal yang kita mau adalah berinteraksi untuk saling
mendapatkan ilmu dalam berfilsafat?
3. Apakah kita dapat menjelaskan
filsafat kita kepada orang yang usianya di bawah kita dan mungkin tahapan
berfikirnya tidak sama dengan kita?
Refleksi Perkuliahan Filsafat
Pendidikan Matematika
Pendidikan Matematika Kelas Bilingual 2009Rabu, 3 Oktober 2012 jam 09.00-10.40 di ruang D01.104 FMIPA UNY
Pengampu: Dr. Marsigit, MA
Langganan:
Postingan (Atom)

