Minggu, 23 Oktober 2011

Puisi akar dua bikinan gue

Hai mas bro mbak sis, sekarang gue mau bagiin puisi bikinan gue sendiri. Isinya juga agak nyeleneh, soalnya nyeritain tentang akar dua (bilangan akar dua gitu kamsutnye). Puisi ini gue bikin buat ikutan lomba puisinya Himaki UNY, tapi gue ga yakin bakal lolos gitu. Yaela, peserta yang ngirimin puisi banyak kale..lagian gue cuma ngirimin atu biji puisi doang. Ya udah dah peluangnya mbuh berapa. Jadi daripada ngendep di lepi gue, mending dibagiin ke dunia maya aje..hehe..cekiprot monggo..


Cerita sang √2

Aku adalah √2
Yang dalam kesendiriannya menatap dunia
Walau hangat mentari menyapaku mesra, aku tak bergeming
Karena aku adalah  √2

Mereka memanggilku irasional
Mereka menyeru dan berteriak kepada dunia bahwa aku tidak normal
Namun aku tetaplah  √2

Aku tidak diinginkan
Tidak ada yang mau menerimaku dimana-mana
Ketika aku muncul, mereka menyebutnya sebuah musibah
Aku dipinggirkan
Tapi mereka tetap tidak bisa menghapusku dari sejarah

Berjuta tahun telah ku lalui
Melewati segala caci maki dan onak duri
Sempat ku menggugat Tuhan Pencipta Ilmu Pengetahuan
Yang dalam khazanah-khazanah ilmu sang nirwana melahirkan aku ke dunia
Tapi mengapa hanya aku yang disisihkan dari berbagai himpunan?
Menggapai harapan kosong kah eksistensiku?
Salahkah bila nilai diriku mencapai ketakhinggaan alam semesta?
Tapi itu dulu. .
Ketika air mataku belum kering membeku hingga dihempas bebatuan

Mereka pikir aku akan membuang segala asa? Tidak!
Ini waktunya bagiku mengubah pusat gravitasi tempatku berpijak
Belum saatnya bagiku untuk menjadi tanah, aku masih muda!
Akan kulangkahkan kakiku mencari √2 yang lain di dunia ini
Menemui mereka yang bernasib sama denganku
Menyeru kepada mereka, “Bangkitlah! Ikut berjuang bersamaku!”
Untuk merebut keadilan dalam kesempurnaan alam raya
Karena aku adalah  √2

Cerpen karya sendiri pas acara HWC

Hai guys! Lama banget ga nulis di blog ndiri ni..postingan yg ada malah tugas kuliah semua,cape deh. .hehe
Eniwei, kali ini gw mau bagiin cerpen asli karya gue sndiri! Mantap. Karya gue kali ini gue bikin pas ada acara Himatika Writing Community yang temanya lg bikin cerpen puisi, nah gue kbagiannya bkin cerpen (pesertanya banyak, makanya dibagi dua gitu), Sebenernya acaranya udah lama banget, tanggal 26 September 2011, tapi mau gimana lagi, punya waktu buat mostingnya skarang..(melas amat ye?) hehe. Gue jg ga tau ni cerpen bagus apa kaga, jadi cekiprot sndiri aje ye.. oh ya ni link ke alamat blog HImatika Writing Community (HWC) kalo lo mau baca another cerpen n puisi yang bagus-bagus lainnya karya temen-temen Himatika..disini

Untitled (Karena gue ga sempet kasih judul)

“Jarot! Cepetan berangkat!” gelegar emaknya dipagi hari telah membangunkan jarot dari lamunannya. Aneh sekali, ia pikir. Sudah beberapa hari ini lamunanya sama, lamunan yang selalu menyergapnya ketika ia sedang diam, ia melamun dan membayangkan dirinya bersekolah. “lu mau mak lempar pake wajan? Cepetan cari duwit” kali ini emaknya benar – benar serius. Secepat kilat jarot ambil peralatan ngemennya-alat kecrekan dari tutup botol bekas-dan segera melesat kelampu merah tempat ia bekerja.
Jarot adalah salah satu dari jutaan anak Indonesia yang kurang beruntung. Disaat anak – anak seusinya sedang astik – asyiknya bersekolah, jarot sudah harus menghidupi dirinya, emaknya, dan kedua adiknya. Disaat anak – anak disekitarnya telah mengenal FB,Twitter dan hal – hal modern lainnya, jarot masih berpeluh – peluh menuai rupiah diperempatan jalan dan lampu merah terdekat. Tidak jarang ancaman preman dan satpol PP menjadi momok yang menakutkan baginya. Jarot adalah potret bangsa yang tidak dimunculkan kepermukaan. Tak akan pernah ada orang yang mau menengok keadaannya dan mengulurkan bantuan. Setidaknnya itu yang diajarkan emaknya selama bertahun – tahun.
Pagi ini jarot kembali melewati pemukiman orang – orang kaya. Orang – orang yang tidak akan sudi memakan singkong sebagai menu sarapan mereka. Dipemukinan tersebut terletak sekolah yang sangat megah. Mereka yang bersekolah disana adalah anak- anak yang berperawakan bersih dan terawat. “SEKOLAH HARAPAN BANGSA” begitu yang terpampang didepan pagarnya, lengkap dengan spanduk berderetkan prestasi sekolah tersebut dengan berbagai penghargaan di bermacam ajang yang bahkan jarot belum bisa membacanya. Ia selalu menatap lama bangunan sekolah ini. Ia merasa iri, ingin rasanya ia mendapatkan permata – permata ilmu yang diimpikannya. Tapi itu hanya sejenak sebelum ia diusir satpam yang berkata “heh gembel, pergi sana!”
“Empat mata bicara padamu tuk katakan aku cinta kamu”, lagu yang sama telah ia nyanyikan hinggga siang ini. Bukan karena suaranya tidak bagus, tetapi karena jarot tidak hapal lagu lainya. Lagu itu diajarkan oleh teman – teman satu anak jalanan yang sama – sama mengamen disana. “Cuma dapet 8000, aduh” guman jarot. Bisa bilang apa dia keemaknya nanti. Kembali ia melamun tentang dirinya yang bersekolah.
Lamunanya terusik oleh teriakan teman – temannya “satpol PP datang, kabuurrrrrrr!!” dengan tergopoh – gopoh ia kemas uang – uangnya dan peralatannya dan segera melesat kabur dari kejaran satpol PP. “gembel! Berhenti lu” teriak satpol yang mengejarnya. Hari ini ia kurang beruntung. Ia terseok – seok masuk sawah dan tercebur kesungai kotor. “mereka gak akan menemukanku disini” ujar jarot. Ia pun menunggu hingga petang tiba disana.
Saat ia yakin bahwa sudah aman, ia pulang. Uang – uangnya basah semua, badannya kotor dan bau apek. Ditengah perjalanan ia kembali melewati sekolah harapan bangsa. Impiannya segera lenyap. Mungkinkah orang sepertiku bisa merasakan nikmatnya ilmu? Tanya jarot dalam hati dan pagar – pagar sekolah harapan bangsa terlihat semakin jauh baginya

Sabtu, 22 Oktober 2011

Resume of UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA MENUJU PERGURUAN TINGGI BERTARAF INTERNASIONAL (PTBI) “Yogyakarta State University on the move toward World Class University”


UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
MENUJU PERGURUAN TINGGI BERTARAF INTERNASIONAL (PTBI)
“Yogyakarta State University on the move toward World Class University”
Oleh
Dr. Marsigit, MA
Ketua Task Force WCU, UNY

Reviewed by: Seto Marsudi (09301241009)
Mathematics Education Regular 2009
(
http://rasamalaempat.blogspot.com/)




Yogyakarta State University towards World Class University is the work done by Yogyakarta State University and all components and civitas academic organizations to realize the international standard of excellence in the field of Teaching and Education Programs, Research and Publication, as well as the Organization and Management Education. Realizing the Yogyakarta State University to be a World Class University who has a work culture system that meets international standards in implementing the Tridharma Perguruan Tinggi so as to produce quality graduates and excel in a global world. Planning and programs implementation prepare and encourage the accomplishment of YSU as WCU. The process and outcome accountability to locally, nationally and internationally stakeholders. Continuity (on going activity) to continue and cultivate the process and results have been achieved. Task Force was formed consisting of various disciplines, committed and experienced in the field of development pilot program of World Class University.


Activities that have been implemented in 2009 were: Delivery lecturers to follow short-course teaching content through Classic; Planting MoU foreign universities; Development WCU web site; Preparation of an international pilot study program; Development of student learning assessment instrument bilingual classes; Development of content special education web site math and accounting education; international research publications; Exchange of students of international class with overseas partners; English course for faculty and students; Writing an article for the publication of an international research; Preparation of model / handouts supporting international class lectures; Development methods and models of classroom learning international English Language Training for administrative staff and comparative studies; Provision of stimulants on classroom lectures internationally; international seminar on the WCU; National Seminar and Workshop on SBI / RSBI; Procurement of new reference books for the international class; Development and production of an international curriculum; and Use of guest lecturers from abroad to provide stadium general.


YSU leading to an international university has been implementing various programs in year 2 (two). The programs are developed off potential activities that have been owned, either individually or institutionally, to strengthen institutional YSU towards the international level (WCU).

Jumat, 21 Oktober 2011

Resume of KTSP DAN IMPLEMENTASINYA


KTSP DAN IMPLEMENTASINYA

Disampaikan pada WORKSHOP KURIKULUM KTSP
SMA MUHAMMADIYAH PAKEM, SLEMAN, YOGYAKARTA
Tanggal 4-5 Agustus 2006

Oleh : Drs. Marsigit MA

Reviewed by: Seto Marsudi (09301241009)
Mathematics Education Regular 2009
(
http://rasamalaempat.blogspot.com/)


SBC (School Based Curriculum) is the operational curriculum developed and implemented by each educational unit. SBC as a manifestation of primary and secondary education curriculum is developed according to their relevance by any group or committee of the education unit and school / madrasah under the coordination and supervision of the local education office of the Department of Religious District / City for basic education and secondary education to the province based on Content Standards Graduates and Competency Standards and preparing curriculum guides compiled by BSNP.

Assuming that teacher is the one who know most about the developmental level of students, individual differences of students, absorptive capacity, the atmosphere in the learning activities, as well as facilities and resources available, then in the curriculum the teacher has the authority to define and develop curriculum in the syllabus. Curriculum development in this syllabus should be based on several things, among them: the content, the concepts, skills / skills, problems, and student interest.

SBC was developed based on the following principles:
• centered on the potential, development, needs and interests of learners and their environment.
• diverse and integrated
• responsive to the development of science, technology and art
• relevant to the needs of life
• comprehensive and sustainable
• long-life learning
• balance between national interests and regional interests

Syllabus is an elaboration of standards of competence and basic competence in subject matter, learning activities, and indicators of achievement of competency for assessment. Syllabus developed by the principle: Scientific, Relevant, Systematically, Consistent, Insufficient, Actual and Contextual, Flexible, and Comprehensive.

Syllabus Development steps are:
1. Assessing the Competence Standard and Basic Competence
2. Identifying Main Content
3. Developing Learning Experience
4. Formulating Indicators of Success Learning
5. Determination of Types of Assessment
6. Determining the Time Allocation
7. Determining the Source of Learning

In implementation, syllabus is explained at lesson plan, implemented, evaluated, and acted by each teacher. Syllabus must be studied and developed in a sustainable manner with due regard to the input of learning outcome evaluation, the evaluation process (the implementation of learning), and evaluation of learning plans.

Resume of ENGLISH FOR VOCATIONAL EDUCATION


ENGLISH FOR VOCATIONAL EDUCATION

Presenting at the Workshop of Teachers Professional Development
SMK MUHAMMADIYAH 3 KLATEN
Saturday 17 May and Friday 23 May 2008

By
Dr. Marsigit
Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Science,
the Yogyakarta State University

Reviewed by: Seto Marsudi (09301241009)
Mathematics Education Regular 2009
(
http://rasamalaempat.blogspot.com/)


Faktor kunci keberhasilan proses pembelajaran adalah komunikasi. Kerangka kerja untuk serangkaian interaktif tugas yang termediasi dalam Bahasa Inggris yang mendorong guru untuk memenuhi baik persyaratan kurikulum dan kebutuhan belajar serta kepentingan siswa mereka sendiri. Dalam hal proses belajar mengajar, guru dapat menggunakan Bahasa Inggris untuk menyelesaikan tugas mengajar, untuk memperkenalkan dan mempelajari teknologi, mendorong siswa untuk mengkomunikasikan hasil-hasil belajar mereka, mencapai tujuan pembelajaran, dan mengembangkan sumber daya belajar mengajar . Guru perlu menggunakan interaksi menggunakan Bahasa Inggris secara tepat sebagai dasar untuk memperluas interaksi kelas dan mengembangkan sikap dengan siswa mereka dalam penggunaan bahasa Inggris.

Pendidikan kejuruan, kadang-kadang disebut Pendidikan Teknis
dan Karir (PTK) memiliki tujuan untuk mempersiapkan siswa untuk karir yang berbasis di kegiatan manual atau praktis, pekerjaan atau vokasi, istilahnya, di mana pelajar berpartisipasi. Kadang-kadang disebut sebagai pendidikan teknis, yakni pelajar mengembangkan keahlian secara langsung dalam kelompok teknik atau teknologi tertentu. Di Indonesia, pendidikan kejuruan diakui dalam program pendidikan menengah yang disebut SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Dalam rangka untuk melakukan standar internasional, SBI perlu didukung oleh staf pengajar
yang berkualitas dan profesional, fasilitas dan manajemen yang baik. Sekolah serta staf akademik juga harus dapat melakukan relevansi program, efisiensi, efektivitas, akuntabilitas dan untuk mempertahankan program. Berbagai alasan itu wajib bagi guru SMK untuk dapat mengkomunikasikan pengetahuan kejuruan, keterampilan dan pengalaman berbahasa Inggris mereka.

Dalam mengembangkan
proses belajar mengajar dalam bahasa Inggris guru perlu memberikan kesempatan untuk berinteraksi antara satu dengan yang lain (guru dan siswa); melibatkan siswa secara aktif dalam dialog nyata; melibatkan para siswa dalam tugas-tugas dunia nyata; menciptakan hubungan antara siswa dan guru; membantu pembelajar bahasa dan guru mengembangkan komunikasi & kolaborasi TI  yang berguna; keterampilan; menyelidiki jenis tugas yang paling tepat untuk situasi ini; menyelidiki strategi wacana dan interaksi dialogis dari partisipasi siswa, dan mengkompilasi sebuah buku pegangan untuk guru baru dan siswa yang datang untuk jenis interaksi seperti ini.

Sejalan dengan konsep kompetensi komunikatif, faktor-faktor berikut karenanya harus hadir dalam pendidikan kejuruan melalui bahasa Inggris:
1. Kefasihan dan bahasa yang dapat dicerna harus diperhatikan oleh guru
2. Siswa diharapkan untuk berinteraksi dengan siswa lain untuk mengkomunikasikan konten mengajar teknis dalam bahasa Inggris
3. Siswa harus diberikan kesempatan yang cukup untuk mengembangkan konten pengajaran dalam bahasa Inggris.
4. Peran guru tidak hanya untuk memfasilitasi komunikasi dari  konten tetapi juga untuk memfasilitasi Bahasa Inggris sebagai alat untuk komunikasi
5. Guru perlu mendorong siswa untuk membiasakan berbicara dalam bahasa Inggris pada setiap kesempatan.
6.
Guru perlu mengembangkan media dan alat bantu pengajaran yang mendukung baik isi pengajaran dan Bahasa Inggris

Resume of GOOD PRACTICE OF MATHEMATICS TEACHING THROUGH LESSON STUDY AND TEACHERS PROFESSIONAL DEVELOPMENT


GOOD PRACTICE OF MATHEMATICS TEACHING THROUGH LESSON STUDY AND TEACHERS PROFESSIONAL DEVELOPMENT
By:
Dr. Marsigit
Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Science, the
Yogyakarta State University

Reviewed by: Seto Marsudi (09301241009)
Mathematics Education Regular 2009
(
http://rasamalaempat.blogspot.com/)

Lesson Study dikembangkan di mana guru, bekerja sama dengan dosen dan Ahli Jepang, mencoba beberapa model pengajaran di sekolah. Para dosen dari  Program Pelatihan Guru dan guru sekolah bekerja bersama-sama dan merancang beberapa kali Lesson Study. Dasar kegiatan Lesson Study yakni mencerminkan dan mempromosikan paradigma baru dari pendidikan sekunder matematika dan sains, di mana kegiatan belajar tidak hanya dirasakan pragmatis dan berorientasi waktu singkat, tetapi juga bertujuan sepanjang hayat.

Kegiatan Lesson Studi membebaskan guru untuk merefleksi dan mengevaluasi, bekerja sama dengan dosen atau guru lain, paradigma mereka dalam mengajar. Pendekatan Lesson Study melingkupi (a) kerjasama antara siswa dalam belajar, (b) pengajaran dan pembelajaran kontekstual, (c) keterampilan hidup, (d) kegiatan aktif, (e) proses yang interaktif berorientasi kepada kurikulum dan pengembangan silabus, dan ( f) kebebasan dari guru dan siswa. Dari tiga lokasi penelitian, dihasilkan gagasan peningkatan pendidikan, dalam hal guru, siswa, dan dosen.

Proyek Lesson Study terbukti sangat efektif dalam mengangkat semangat siswa dalam belajar
sains, membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan eksperimental dan diskusi mereka, dan memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan konsep ilmiah mereka sendiri. Tercatat pula bahwa dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme, siswa dapat menemukan gaya belajar terbaik mereka. Persaingan meningkat antara kelompok-kelompok siswa dalam mempresentasikan hasil pekerjaan mereka dan dalam mempertahankan presentasi mereka. Ini memaksa siswa untuk belajar teori lebih dan lebih untuk kepentingan mereka sendiri. Sebagai hasil dari kegiatan Lesson Study ada banyak bahan pengajaran yang dikembangkan baik oleh dosen maupun oleh guru. Materi tersebut baik yang dikembangkan oleh dosen atau guru di kelas mereka sendiri atau oleh dosen dan guru bersama-sama selama kegiatan Lesson Study. Secara umum, dosen dan / atau guru mengembangkan materi mengajar setelah berpikir luas apa dan bagaimana mengembangkan bahan ajar untuk topik tertentu, dan kemudian mengembangkan bahan. Selanjutnya, mereka mencoba bahan-bahan pengajaran dalam kelas mereka dan direvisi yang didasarkan pada hasil uji coba.

Dalam mengembangkan metode
belajar mengajar, guru perlu merencanakan skenario mengajar, merencanakan kegiatan siswa, merencanakan peran guru, mendistribusikan tugas, mengembangkan metode penilaian, dan memantau kemajuan prestasi siswa. Untuk mengembangkan pengalaman mereka, para guru juga perlu berpartisipasi lebih sering dalam  berbagai lokakarya atau seminar. Dengan menggunakan bahan-bahan pengajaran guru-guru dapat melakukan proses belajar mengajar lebih efisien. Siswa menikmati proses belajar mereka karena mereka terlibat dalam mengamati dan melakukan hal-hal. Bahan pengajaran tersebut juga meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa dalam mempelajari bahan. Meskipun ada berbagai jenis bahan mengajar yang telah dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan Lesson Study, masih banyak topik lagi yang masih memerlukan bahan pengajaran yang lebih baik.