Minggu, 23 Oktober 2011

Cerpen karya sendiri pas acara HWC

Hai guys! Lama banget ga nulis di blog ndiri ni..postingan yg ada malah tugas kuliah semua,cape deh. .hehe
Eniwei, kali ini gw mau bagiin cerpen asli karya gue sndiri! Mantap. Karya gue kali ini gue bikin pas ada acara Himatika Writing Community yang temanya lg bikin cerpen puisi, nah gue kbagiannya bkin cerpen (pesertanya banyak, makanya dibagi dua gitu), Sebenernya acaranya udah lama banget, tanggal 26 September 2011, tapi mau gimana lagi, punya waktu buat mostingnya skarang..(melas amat ye?) hehe. Gue jg ga tau ni cerpen bagus apa kaga, jadi cekiprot sndiri aje ye.. oh ya ni link ke alamat blog HImatika Writing Community (HWC) kalo lo mau baca another cerpen n puisi yang bagus-bagus lainnya karya temen-temen Himatika..disini

Untitled (Karena gue ga sempet kasih judul)

“Jarot! Cepetan berangkat!” gelegar emaknya dipagi hari telah membangunkan jarot dari lamunannya. Aneh sekali, ia pikir. Sudah beberapa hari ini lamunanya sama, lamunan yang selalu menyergapnya ketika ia sedang diam, ia melamun dan membayangkan dirinya bersekolah. “lu mau mak lempar pake wajan? Cepetan cari duwit” kali ini emaknya benar – benar serius. Secepat kilat jarot ambil peralatan ngemennya-alat kecrekan dari tutup botol bekas-dan segera melesat kelampu merah tempat ia bekerja.
Jarot adalah salah satu dari jutaan anak Indonesia yang kurang beruntung. Disaat anak – anak seusinya sedang astik – asyiknya bersekolah, jarot sudah harus menghidupi dirinya, emaknya, dan kedua adiknya. Disaat anak – anak disekitarnya telah mengenal FB,Twitter dan hal – hal modern lainnya, jarot masih berpeluh – peluh menuai rupiah diperempatan jalan dan lampu merah terdekat. Tidak jarang ancaman preman dan satpol PP menjadi momok yang menakutkan baginya. Jarot adalah potret bangsa yang tidak dimunculkan kepermukaan. Tak akan pernah ada orang yang mau menengok keadaannya dan mengulurkan bantuan. Setidaknnya itu yang diajarkan emaknya selama bertahun – tahun.
Pagi ini jarot kembali melewati pemukiman orang – orang kaya. Orang – orang yang tidak akan sudi memakan singkong sebagai menu sarapan mereka. Dipemukinan tersebut terletak sekolah yang sangat megah. Mereka yang bersekolah disana adalah anak- anak yang berperawakan bersih dan terawat. “SEKOLAH HARAPAN BANGSA” begitu yang terpampang didepan pagarnya, lengkap dengan spanduk berderetkan prestasi sekolah tersebut dengan berbagai penghargaan di bermacam ajang yang bahkan jarot belum bisa membacanya. Ia selalu menatap lama bangunan sekolah ini. Ia merasa iri, ingin rasanya ia mendapatkan permata – permata ilmu yang diimpikannya. Tapi itu hanya sejenak sebelum ia diusir satpam yang berkata “heh gembel, pergi sana!”
“Empat mata bicara padamu tuk katakan aku cinta kamu”, lagu yang sama telah ia nyanyikan hinggga siang ini. Bukan karena suaranya tidak bagus, tetapi karena jarot tidak hapal lagu lainya. Lagu itu diajarkan oleh teman – teman satu anak jalanan yang sama – sama mengamen disana. “Cuma dapet 8000, aduh” guman jarot. Bisa bilang apa dia keemaknya nanti. Kembali ia melamun tentang dirinya yang bersekolah.
Lamunanya terusik oleh teriakan teman – temannya “satpol PP datang, kabuurrrrrrr!!” dengan tergopoh – gopoh ia kemas uang – uangnya dan peralatannya dan segera melesat kabur dari kejaran satpol PP. “gembel! Berhenti lu” teriak satpol yang mengejarnya. Hari ini ia kurang beruntung. Ia terseok – seok masuk sawah dan tercebur kesungai kotor. “mereka gak akan menemukanku disini” ujar jarot. Ia pun menunggu hingga petang tiba disana.
Saat ia yakin bahwa sudah aman, ia pulang. Uang – uangnya basah semua, badannya kotor dan bau apek. Ditengah perjalanan ia kembali melewati sekolah harapan bangsa. Impiannya segera lenyap. Mungkinkah orang sepertiku bisa merasakan nikmatnya ilmu? Tanya jarot dalam hati dan pagar – pagar sekolah harapan bangsa terlihat semakin jauh baginya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar